Total Tayangan Laman

Jumat, 27 Juli 2012

STANDART KONSEP PELAYANAN REPRODUKSI DI RS


STANDART KONSEP PELAYANAN REPRODUKSI DI RS, PUSKESMAS, DAN LAHAN PRAKTEK MASING-MASING
STIKES Baru(Tugas Mata Kuliah Reproduksi )







DISUSUN OLEH :
1.      Ahmad Barra A.
2.      Endik Wijiono
3.      Ivelyn Maimunah Zenit
4.      Rinda A. Fita Sari
5.      Rindi Dwi Damayanti
6.    Runi Nolisa
PRODI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA”
2010


KATA PENGANTAR


            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahamat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Reproduksi yang berjudul ”Standart Konsep Pelayanan Reproduksi Yang Ada Di Rumah Sakit,Puskesmas dan Lahan Praktek”ini dengan baik dan benar.
Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada:
1.      Dosen pembimbing mata kuliah Reproduksi Maharani Tri.P.S,Kep.Ns.M.Kes yang telah memberikan bimbingan dalam menyusun  makalah ini.
2.      Teman-teman sekelompok yang telah bekerja keras dan bekerja sama dalam menyusun makalah ini.
Penulis menyadari bahwa sebagai manusia biasa tentu makalah ini jauh dari sempurna.Oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini dengan baik.
Semoga makalah ini dapat bermanfaaat dan menambah wawasan kita semua.












                                                                                             Jombang,11 April 2010



                                                                                                        Penyusun






DAFTAR ISI

Hal judul……………………………………………………………………………….i
Kata Pengantar…………………………………………………………………....…...ii
Daftar isi……………………………………………………………….....……………iii
A. Pengertian Konsep Normal Dalam Pelayanan Reproduksi………….........................1
1.Konsep Kehamilan Normal.......................................................................................
2.Konsep Persalinan Normal.......................................................................................
3.Konsep Nifas Normal................................................................................................
B.Standar Pelayanan Reproduksi di RS,puskesmas,dan lahan praktek     masing-masing..........................................................................................
1.Standar I Falsafah dan Tujuan.................................................
2.Standar II Administrasi dan Pengelolaan................................
3.Standar III Staf dan Pimpinan.................................................
4.Standar IV Fasilitas dan Peralatan..........................................
5.Standar V Kebijakan dan Prosedur.........................................
6.Standar VI Pengembangan Staf dan Program Pendidikan................................................................................
7.Standar VII Asuhan..................................................................
8.Standar VIII Evaluasi dan Pengendalian Mutu.........................
C.Standar Praktek Reproduksi di RS,puskesmas,dan lahan praktek masing-masing…………………………………………………………….
1.         Standar I Metode Asuhan…………………………………….
2.         Standar II Pengkajian……………………………………..
3.         Standar III Diagnosa Kebidanan…………………………
4.         Standar IV Rencana Asuhan……………………………
5.         Standar V Tindakan…………………………………….
6.         Standar V Partisipasi Klien………………………….
7.         Standar VI  Pengawasan………………………….
8.         Standar  VII Evaluasi………………………………….
9.         Standar VII Dokumentasi……………………………………
D. Kasus…………………………………………………………………

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………










Standart  Pelayanan Reproduksi di Rumah Sakit,Puskesmas,dan Lahan Praktek masing-masing
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, menyangkut fisik, mental, maupun sosial budaya dan ekonomi. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan yang menyeluruh, terarah dan berkesinambungan. Masalah reproduksi di Indonesia mempunyai dua dimensi.
Pertama: yang laten yaitu kematian ibu dan kematian bayi yang masih tinggi akibat bebagai faktor termasuk pelayanan kesehatan yang relatif kurang baik.
Kedua ialah timbulnya penyakit degeneratif yaitu menopause dan kanker.
Dalam globalisasi ekonomi kita diperhadapkan  pada persaingan global yang semakin ketat yang menuntut kita semua untuk menyiapkan manusia Indonesia yang berkualitas tinggi sebagai generasi penerus bangsa yang harus disiapkan sebaik mungkin secara terencana, terpadu dan berkesinambungan. Upaya tersebut haruslah secara konsisten dilakukan sejak dini yakni sejak janin dalam kandungan, masa bayi dan balita, masa remaja hingga dewasa bahkan sampai usia lanjut.

A. Pengertian Konsep Normal Dalam Pelayanan Kebidanan

Normalitas bukan suatu konsep yang baku. Konsep ”normal” dapat didefinisikan secara sosial sehingga senantiasa berubah setiap waktu. Dalam dunia yang selalu berubah ini,definisi konsep ”normal” akan terus berubah sesuai ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlaku. Istilah normal akan selalu diikuti oleh istilah abnormal.
Pemahaman konsep abnormalitas dalam asuhan kebidanan menyebabkan sejumlah ibu digolongkan ke dalam kelompok berisiko tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya anggapan bahwa kondisi ibu mengalami hal-hal yang menyimpang dari konsep kenormalan sehingga membatasi praktek kebidanan.Konsep normal dalam pelayanan kebidanan mencakup proses kehamilan,persalinan dan nifas. Profesi ini menganggap bahwa kehamilan,persalinan,nifas dan sekarang meluas pada wanita selama siklus hidupnya merupakan hal yang normal dan alami.Oleh karena itu,konsep normal tersebut diasumsikan tidak memerlikan penjelasan karena bidan telah mempunyai pola pikir dan keyakinan yang universal dalam memberi asuhan kepada ibu hamil sepanjangg siklus hidupnya.
                    1.Konsep Kehamilan Normal
Masa kehamilan dimulaimdari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari), dihitung dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Kehamilan melibatkan perubahan fisik dan emosi ibu serta perubahan sosial pada keluarga. Pada umunya,kehamilan berkembang normal dan menghasilkan bayi yang lahir sehat cukup bulan melalui jalan lahir.Akan tetapi,tidak sedikit masalah yang terjadi dalam proses tersebut. Oleh karena itu,pelayanan sitem asuhan antenatal merupakann cara penting untuk memantau dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kelainan atau masalah yang ada.
            2. Konsep Persalinan Normal
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu),lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18-24 jam,dan tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. Peran bidan dibutuhkan untuk memantau persalinan,mendeteksi bantuan serta dukungan pada ibu dan bayi. Pendekatan yang dilakukan oleh bidan tidak sama dengan pendekatan yang dilakukan oleh profesi kesehatan yang lain, karena pada saat itu,wanita membutuhkan pelayanan kemitraan.
            3. Konsep Nifas Normal
Masa nifas dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu. Pada masa itu,terjadi perubahan fisiologis antara lain perubahan fisik,involusi uterus dan pengeluaran lokia,proses laktasi dan perubahan sistem tubuh lanilla. Tujuan asuhan masa nifas hádala menjaga kesehatan ibu dan bayinya,baik fisik maupun psikologis,memberi pendfidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,nutrisi keluarga,keluarga berencana,tata cara menyusui,pe,berian imunisasi pada bayinya dan lain0lain. Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bbayinya. Diperkirakan sekitar 50% kematian masa nifas terjadi dalm 24 jam pertama. Dengan pemantauan melekat dalam asuhan nifas,kesehatan ibu dan bayi dapat terjaga.

B. STANDAR PELAYANAN REPRODUKSI DI RS, PUSKESMAS, DAN LAHAN PRAKTIK MASING-MASING

1. STANDAR I : FALSAFAH DAN TUJUAN

Definisi Operasional :
  1. Dalam menjalankan perannya bidan memiliki keyakinan yang dijadikan panduan dalam memberikan asuhan
  2. Tujuan utama asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi (mengurangi kesakitan dan kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada promosi persalinan normal, pencegahan penyakit, pencegahan cacad pada ibu dab bayi, promosi kesehatan  yang bersifat holistik, diberikan dengan cara yang kreatif, fleksibel, suportif, peduli, bimbingan, monitor dan pendidikan berpusat pada perempuan. Asuhan berkesinambungan, sesuai keinginan klien dan tidak otoriter serta menghormati pilihan perempuan

2. STANDAR II : ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN

Pengelola pelayanan kebidanan memiliki pedoman pengelolaan, standar pelayanan dan prosedur tetap. Pengelolaan pelayanan yang kondusif, menjamin praktik pelayanan kebidanan yang akurat.
Definisi Operasional :
  1. Ada pedoman pengelolaan pelayanan yang mencerminkan mekanisme kerja di unit pelayanan tersebut yang disahkan oleh pimpinan.
  2. Ada standar pelayanan yang dibuat mengacu pada pedoman standar alat, standar ruangan, standar ketenagaan yang telah tindakan di sahkan oleh pimpinan.
  3. Ada standar prosedur tetap untuk setiap jenis kegiatan/ kebidanan yang di sahkan oleh pimpinan.
  4. Ada rencana/program kerja disetiap institusi pengelolaan yang mengacu ke institusi induk.
  5. Ada bukti tertulis terselenggaranya pertemuan berkala secara teratur, dilengkapi dengan daftar hadir dan notulen rapat.
  6. Ada naskah kerjasama, program praktik dari institusi yang menggunakan  lahan praktik, program pengajaran dan penilaian klinik.
  7. Ada bukti administrasi.

3. STANDAR III : STAF DAN PIMPINAN

Pengelola pelayanan kebidanan mempunyai program pengeloaan sumber daya manusia, agar pelayanan kebidanan berjalan efektif dan efisien.
Definisi Operasional :
  1. Tersedia SDM sesuai dengan kebutuhan baik kualifikasi maupun jumlah.
  2. Mempunyai jadwal pengaturan kerja harian.
  3. Ada jadwal dinas sesuai dengan tanggung jawab dan uraian kerja.
  4. Ada jadwal bidan pengganti dengan peran fungsi yang jelas.
  5. Ada data personil yang bertugas di ruangan tersebut.

4. STANDAR IV : FASILITAS DAN PERALATAN

Tersedia sarana dan peralatan untuk mendukung pencapaian tujuan pelayanan kebidanan sesuai dengan beban tugasnya dan fungsi institusi pelayanan.
Definisi Operasional :
  1. Tersedia sarana dan peralatan untuk mencapai tujuan pelayanan kebidanan sesuai standar.
  2. Tersedianya peralatan yang sesuai dalam jumlah dan kualitas.
  3. Ada sertifikasi untuk penggunaan alat-alat tertentu.
  4. Ada prosedur permintaan dan penghapusan alat.

5. STANDAR V : KEBIJAKAN DAN PROSEDUR

Pengelola pelayanan kebidanan memiliki kebijakan penyelenggaraan pelayanan dan pembinaan personil menuju pelayanan yang berkualitas.
Definisi Operasional :
  1. Ada kebijakan tertulis tentang prosedur pelayanan dan standar pelayanan yang disahkan oleh pimpinan.
  2. Ada prosedur rekrutment tenaga yang jelas.
  3. Ada regulasi internal sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk mengatur hak dan kewajiban personil.
  4. Ada kebijakan dan prosedur pembinaan personal.

          6. STANDAR VI : PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN

Pengelola pelayanan kebidanan memiliki program pengembangan staf dan perencanaan pendidikan, sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
Definisi Operasional :
  1. Ada program pembinaan staf dan program pendidikan secara berkesinambungan.
  2. Ada program orientasi dan pelatihan bagi tenaga bidan/personil baru dan lama agar dapat beradaptasi dengan pekerjaan.
  3. Ada data hasil identifikasi kebutuhan pelatihan dan evaluasi hasil pelatihan.

7. STANDAR VII : STANDAR ASUHAN

Pengelola pelayanan kebidanan memiliki standar asuhan/manajemen kebidanan yang diterapkan sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Definisi Operasional :
  1. Ada Standar Manajemen Asuhan Kebidanan (SMAK) sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan kebidanan.
  2. Ada format manajemen kebidanan yang terdapat pada catatan medik.
  3. Ada pengkajian asuhan kebidanan bagi setiap klien.
  4. Ada diagnosa kebidanan.
  5. Ada rencana asuhan kebidanan.
  6. Ada dokumen tertulis tentang tindakan kebidanan.
  7. Ada catatan perkembangan klien dalam asuhan kebidanan.
  8. Ada evaluasi dalam memberikan asuhan kebidanan.
  9. Ada dokumentasi untuk kegiatan manajemen kebidanan.

8. STANDAR VIII : EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU

Pengelola pelayanan kebidanan memiliki program dan pelaksanaan dalam evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan kebidanan yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
Definisi Operasional :
  1. Ada program atau rencana tertulis peningkatan mutu pelayanan kebidanan.
  2. Ada program atau rencana tertulis untuk melakukan penilaian terhadap standar asuhan kebidanan.
  3. Ada bukti tertulis dari risalah rapat sebagai hasil dari kegiatan pengendalian mutu asuhan dan pelayanan kebidanan.
  4. Ada bukti tertulis tentang pelaksanaan evaluasi pelayanan dan rencana tindak lanjut.
  5. Ada laporan hasil evaluasi yang dipublikasikan secara teratur kepada semua staf pelayanan kebidanan
 
C. STANDAR PRAKTIK REPRODUKSI DI RS, PUSKESMAS, DAN LAHAN PRAKTEK  MASING-MASING
 
1. STANDAR I : METODE ASUHAN
Asuhan kebidanan dilaksanakan dengan metode manajemen kebidanan dengan langkah: Pengumpulan data dan analisis data, penegakan diagnosa perencanaan pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi.
Definisi Operasional :
  1. Ada format manajemen asuhan kebidanan dalam catatan asuhan kebidanan.
  2. Format manajemen asuhan kebidanan terdiri dari: format pengumpulan data, rencana asuhan, catatan implementasi, catatan perkembangan, tindakan, evaluasi, kesimpulan dan tindak lanjut kegiatan lain.
2. STANDAR II : PENGKAJIAN
Pengumpulan data tentang status kesehatan klien dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis.
Definisi Operasional :
Pengumpulan data dilakukan secara sistematis, terfokus, yang meliputi data :
  1. Demografi identitas klien
  2. Riwayat penyakit terdahulu
  3. Riwayat kesehatan reproduksi :
-  Riwayat haid
-  Riwayat bedah organ reproduksi
-  Riwayat kehamilan dan persalinan
-  Pengaturan kesuburan
-  Faktor kongenital/keturunan yang terkait
  1. Keadaan kesehatan saat ini termasuk kesehatan reproduksi
  2. Analisis data
3. STANDAR III : DIAGNOSA KEBIDANAN
Diagnosa kebidanan dirumuskan berdasarkan analisis data yang telah dikumpulkan.
Definisi Operasional :
  1. Diagnosa kebidanan dibuat sesuai dengan hasil analisa data.
  2. Diagnosa kebidanan dirumuskan secara sistematis.
4. STANDAR IV : RENCANA ASUHAN
Definisi Operasional :
  1. Ada format rencana asuhan kebidanan.
  2. Format rencana asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa, berisi rencana tindakan, evaluasi dan tindakan.
5. STANDAR V : TINDAKAN
Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan diagnosa, rencana dan perkembangan keadaan klien.
Definisi Operasional :
  1. Ada format tindakan kebidanan dan evaluasi.
  2. Tindakan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan perkembangan klien.
  3. Tindakan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan prosedur tetap dan wewenang bidan atau hasil kolaborasi.
  4. Tindakan kebidanan dilaksanakan dengan menerapkan etika dan kode etik kebidanan.
  5. Seluruh tindakan kebidanan dicatat pada format yang telah tersedia.
6. STANDAR VI : PARTISIPASI KLIEN
Klien dan keluarga dilibatkan dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan.
Definisi Operasional :
  1. Klien/keluarga mendapatkan informasi tentang :
- Status kesehatan saat ini
- Rencana tindakan yang akan dilaksanakan
- Peranan klien/keluarga dalam tindakan kebidanan
- Peranan petugas kesehatan dalam tindakan kebidanan
- Sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan
  1. Klien dan keluarga dilibatkan dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan dalam asuhan.
  2. Pasien dan keluarga diberdayakan dalam terlaksananya rencana asuhan klien
7. STANDAR VII : PENGAWASAN
Monitor/pengawasan klien dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien.
Definisi Operasional :
  1. Adanya format pengawasan klien.
  2. Pengawasan dilaksanakan secara terus menerus dan sistimatis untuk mengetahui perkembangan klien.
  3. Pengawasan yang dilaksanakan dicatat dan dievaluasi.
8.      STANDAR VIII : EVALUASI
Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan terus menerus sesuai dengan tindakan kebidanan dan rencana yang telah dirumuskan.
Definisi Operasional :
  1. Evaluasi dilaksanakan pada tiap tahapan pelaksanaan asuhan sesuai standar.
  2. Hasil evaluasi dicatat pada format yang telah disediakan.
9. STANDAR IX : DOKUMENTASI
Asuhan kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi asuhan kebidanan.
Definisi Operasional :
  1. Dokumentasi dilaksanakan pada setiap tahapan asuhan kebidanan.
  2. Dokumentasi dilaksanakan secara sistimatis, tepat, dan jelas.
  3. Dokumentasi merupakan bukti legal dari pelaksanaan asuhan kebidanan




D. CONTOH KASUS
            Contoh kasus diambil dari  Seminar hasil penelitian yang berjudul “Akses dan pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kesehatan pada perempuan miskin “ oleh Women Research Institute pada 30 Juni 2008 di Jakarta

Kasus 1

Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi Perempuan Miskin (Hasil Studi WRI di 7 Kabupaten: Lampung Utara, Lebak, Indramayu, Solo, Jembrana, Lombok Tengah, dan Sumba Barat) 2007

Edriana Noerdin (Women Research Institute)
Simpulan Sementara Penelitian Kuantitatif.
  1. Walaupun ada jaminan pelayanan kesehatan gratis, tidak serta merta mengurangi pilihan perempuan miskin untuk ke dukun seperti di Lebak, Lampung Utara dan Sumba Barat karena sosialisasi layanan gratis tidak merata, dan dukun mudah diakses.
  2. Pilihan masyarakat ke dukun dipengaruhi oleh jarak tempuh, pelayanan perawatan bayi dan ibu paska melahirkan, fleksibilitas pembayaran (in-natura) dan kapercayaan dan tradisi masyarakat yang masih kuat
  3. Belum ada kebijakan khusus berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan khususnya penekanan implementasi bidan tinggal didesa.
  4. Biaya bersalin yang dianggap mahal masih menjadi alasan masyarakat untuk melahirkan di dukun.
  5. Ada peningkatan pendidikan berkala kesehatan reproduksi bagi bidan agar mampu memberikan layanan persalinan, KB dan pemeriksaan gejala infeksi menular sexual yang memadai dan dipercaya oleh masyarakat.

Kasus 2

Ketersediaan dan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Bagi Ibu Melahirkan (Hasil Studi di 7 Kabupaten: Lombok Tengah, Indramayu, Surakarta, Jembrana, Lampung Utara, Sumba Barat, Lebak), 2008

Simpulan Sementara Penelitian Kualitatif
  1. Belum ada kebijakan khusus berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan khususnya penekanan implementasi bidan tinggal di desa, peningkatan kesejahteraan Bidan, jaminan transportasi bagi bidan yang tinggal di daerah terpencil, serta jaminan keamanan terhadap bidan yang tinggal di daerah terpencil.
  2. Belum di semua daerah penelitian ada kebijakan kemitraan bidan dengan dukun yang sudah berhasil diterapkan di Indramayu dan Lombok Tengah dengan dampak persalinan dibantu Bidan tinggi dibanding Lampung Utara, Sumba Barat, dan Lebak, bahkan mendekati angka Surakarta dan Jembrana.
  3. Perlu ada peningkatan pendidikan kesehatan reproduksi bagi bidan agar mampu memberikan layanan persalinan, KB dan pemeriksaan gejala infeksi menular sexual yang memadai dan dipercaya oleh masyarakat.
  4. Belum ada kebijakan tentang implementasi standar polindes yang layak huni dan memenuhi standar kebersihan dasar untuk membantu ibu melahirkan seperti kamar yang terpisah dari keluarga bidan, minimal ada dua ruangan kamar untuk menampung pasien lebih dari satu orang, adanya air bersih, adanya lampu penerangan, adanya kulkas untuk menyimpan obat-obatan.
  5. Belum ada kebijakan agar klaim biaya bantuan persalinan oleh bidan harus langsung dibayarkan, sehingga bidan tidak selalu bekerja sukarela tanpa ada kepastian klaim biaya persalinan mereka akan dibayar.
Kasus 3

Strategi Making Pregnancy Safer

Dr. Lukman Hendro Laksmono, MBA (HPN)
(Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Departeme Kesehatan RI)
Strategi Making Pregnancy Safer
  1. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir di tingkat pelayanan dasar dan rujukan
  2. Membangun kemitraan yang efektif
  3. Mendorong pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat
  4. Penguatan manajemen program KIA: sistem survailans, monitoring dan informasi KIA dan pembiayaan
Ibu meninggal disebabkan karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu berkualitas, terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi kejadian:
  1. Terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan
  2. Terlambat mencapai fasilitas kesehatan
  3. Terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan
Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir
1. Keluarga Berencana:
  • Penyediaan pelayanan KB gratis bagi Gakin
  • Penyediaan Alokon
  • Menurunkan kejadian Unmet Need dan 4 terlalu
2. Pelayanan Antenatal:
  • Peningkatan kualitas: pemeriksaan laboratorium, konseling, imunisasi dan gizi
  • Integrasi dengan program terkait: IMS, HIV, Malaria, Tb dan kecacingan
  • Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K)
3. Pertolongan persalinan:
  • Kemiteraan bidan – dukun
  • Persalinan dengan MAK III
  • Pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan
4. Pelayanan masa nifas:
  • Ibu
  • Neonatus
  • Dilakukan sedini mungkin
5. Penanganan Komplikasi:
  • Penyediaan Puskesmas mampu PONED dan RS mampu PONEK yang berfungsi
  • Menurunkan CFR
Pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat
  • Pendidikan kesehatan reproduksi remaja di sekolah (formal dan non formal) dan non sekolah
  • Promosi tentang kesehatan reproduksi pada masyarakat termasuk pemerintah
  • Peningkatan pengetahuan dan kesiapan tentang bahaya kehamilan, persalinan dan nifas --> Desa Siaga, GSI, pemanfaatan Buku KIA dan P4K
Kasus 4

“Bidan“ Ujung Tombak Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Emi Nurjasmi (PP Ikatan Bidan Indonesia)
Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Maternal dan Neonatal
  • Di masyarakat (Pelayanan esensial, deteksi kasus risti + PPGDON di Polindes/Poskesdes)
  • Puskesmas (Pelayanan esensial, deteksi kasus risti + PONED (Tim PONED)
  • RS. Kabupaten/Kota
  • (Pelayanan esensial, deteksi kasus risti + PONEK (Tim PONEK)
  • Pemantapan jaringan pelayanan obstetri dan neonatal di wilayah kabupaten/kota
  • Peningkatan Kemitraan (Lintas sektor dan program)
  • Jamkesmas
Prinsip Pelayanan Kebidanan di Desa
  • Pelayanan di komunitas desa sifatnya multi disiplin meliputi ilmu kesehatan masyarakat, kedokteran, sosial, psikologi, komunikasi, ilmu kebidanan, dan lain-lain yang mendukung peran bidan di komunitas
  • Dalam memberikan pelayanan di desa bidan tetap berpedoman pada standar dan etika profesi yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
  • Dalam memberikan pelayanan bidan senantiasa memperhatikan dan memberi penghargaan terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, sepanjang tidak merugikan dan tidak bertentangan dengan prinsip kesehatan.
Ukuran keberhasilan bidan dalam pelayanan di komunitas/desa tidak hanya penurunan AKI dan AKB, tapi juga bangkitnya gerakan masyarakat untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan kesehatan serta kualitas hidupnya.
Kesimpulan
  1. Pada hakekatnya masyarakat punya hak memperoleh pelayanan yang berkualitas -->Ibu Sehat Bayi sehat --> Bangsa sehat
  2. Bidan sebagai pemberi jasa harus menjaga mutu pelayanan dan melayani sesuai kebutuhan (mitra perempuan)
  3. Bidan harus tetap meningkatkan kemampuan
  4. Bidan sebagai tenaga kesehatan pada lini terdepan (ujung tombak)
  5. Bidan punya kebutuhan dan harapan (kesejahteraan, masa depan dan keamanan)
  6. Pemerintah bertanggungjawab menyediakan yankes (Sarana prasana, SDM dll (Sustainability dan Jamkesmas?)
  7. Pemerintah dan OP melakukan pengawasan dan pembinaan
Kasus 5

Kesenjangan Kebijakan dan Implementasi Kebijakan Kesehatan Reproduksi

Roy Tjiong (Ketua Panah Medik/Kespro PKBI)
Pokok Permasalahan
  • Rendahnya akses penduduk miskin pada layanan kesehatan yang berkualitas sehingga status kesehatan mereka tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang lebih mampu
  • Motivasi rendah khususnya untuk penempatan di daerah terpencil dan miskin
  • Kebijakan insentif yang lemah
  • Dwi-fungsi memberikan insentif yang lebih kuat bagi petugas kesehatan untuk bekerja di pusat-pusat pertumbuhan
  • Program PTT dan berbagai insentif yang dikembangkan belum berhasil mengatasi kesenjangan geografis
  • Decentralisasi secara nyata semakin memperburuk skema insentif dan semakin melemahkan sistem informasi kesehatan


Quality of Care
  • Bidan setelah mengenali kondisi gawat darurat kebidanan perlu segera merujuk ibu bersalin ke sistem rujukan yang handal
  • Namun, tidak jarang sistem rujukan yang tersedia belum didukung kompetensi klinis dan kelengkapan peralatan medis yang tersedia masih sub-standar
  • Peran bidan adalah mengenali kasus gawat darurat, merujuk dan memfasilitasi proses rujukan
Beberapa kajian tentang Bidan di Desa menunjukkan:
  • Di daerah terpencil Bidan di Desa dituntut juga untuk melakukan asuhan perawatan anak, dan fungsi kuratif di samping asuhan rawatan kehamilan/persalinan
  • Utilisasi layanan kesehatan masih rendah
  • Fungsi rujukan masih jauh dari optimal
  • Apakah masalahnya terletak pada suplai atau demand?
  • Sekalipun masyarakat miskin sudah dijamin (askeskin, jamkesmas) untuk layanan kuratif, bagaimana dengan transportasi?

























DAFTAR PUSTAKA


Satia negara,M.fais.2009.Buku Ajar Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan Serta Kebidanan.Jakarta:Salem Medika

Syafrudin.2009.Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam Kebidanan.Jakarta:Trans info Media

Http:// wri.or.id/:g:id/Penelitian Kesehatan Perempuan/Akses dan Pemanfaatan Fasilitas dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi.

Http:// puskesmas./ agustus 30.2009

Soepardan, suryani dan M.Dadi Anwarhadi.2005.Etika Kebidanan dan Hukum Kesehatan.Jakarta:EGC




































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar