Total Tayangan Halaman

Jumat, 27 Juli 2012

osteoporosis


TUGAS
SISTEM MUSKULUSKELETAL
OSTEOPOROSIS


                                                   DISUSUN OLEH :
1.            DWI SUSANTI
2.            FIRJINIA TITIN M.
3.            INDAH SUGIARTI


DIPLOMA III KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA“
JOMBANG
2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul” tepat pada waktunya.
Makalah ini memaparkan tentang pemakaian bahasa dan budaya gaul dalam kehidupan remaja saat ini. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada para mahasiswa tentang pengaruh bahasa dan budaya gaul remaja.
Penulis mengakui dan menyadari bahwa makalah ini tidak akan selesai tanpa bantuan orang lain. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
  1. Ibu Devi Fitriyah selaku dosen mata kuliah musculuskeletal
  2. Orang tua penulis yang memberikan dorongan dan doa.
  3. Serta pihak-pihak lain yang membantu penulis untuk menyelesaikan tugas makalah ini.
Dalam kerendahan hati penulis mengakui dan menyadari bahwa penyusunan ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kesempernaan tugas kami selanjutnya.


                                                                                          Jombang, 10 Oktober 2010



                                                                                                      Tim Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..........................................................................................         i
KATA PENGANTAR........................................................................................        ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................       iii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................        5
A.. Latar Belakang.........................................................................................        5
B. Tujuan......................................................................................................        5
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................        6
A.. Definisi....................................................................................................        6
B.. Klasifikasi Osteoporosis..........................................................................        6
C.. Faktor Penyebab Osteoporosis................................................................        6
D.. Gambaran Klinis......................................................................................        7
E... Pengobatan..............................................................................................        7
F... Pencegahan..............................................................................................        8
G.. WOC........................................................................................................        9
H.. Pemeriksaan Penunjang...........................................................................        9
BAB III PENUTUP............................................................................................      15
A.. Kesimpulan..............................................................................................      15
B.. Saran........................................................................................................      15
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN.............................................................      16
A.. Pengkajian................................................................................................      16
B.. Diagnosa Keperawatan............................................................................      24
C.. Intervensi.................................................................................................        9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................      27        



BAB I PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama penyusun tulang adalah kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan berkurangnya kalsium yang terdapat pada tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan pada mikroarstektur tulang dan tulang menjadi keropos. Akibatnya tulang menjadi kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak/patah.
Osteoporosis atau keropos tulang adalah keadaan dimana tulang menjadi keropos, rapuh dan mudah patah. Penderita osteoporosis dicirikan dengan tubuh yang bungkuk atau bengkok. Namun sebenarnya tidak selalu demikian, banyak orang yang sudah mulai menderita osteoporosis tetapi tidak terlihat dari luar. Penderita osteoporosis biasanya merasakan linu-linu dan sakit terutama ketika melakukan pergerakan anggota tubuhnya. Itu sebabnya gejala-gejala yang harus diwaspadai sebagai awal osteoporosis adalah rasa pegal, linu-linu dan nyeri tulang terutama pada bagian punggung dan pinggang. Akibat dari osteoporosis, orang akan mudah mengalami fraktur atau patah tulang spontan, terutama pada pergelangan tangan, pinggul dan tulang belakang.

B. Tujuan

1.      Untuk memahami definisi,, etiologi, pencegahan, gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan dan Asuhan keperawatan pada Osteoporosis.
2.      Meningkatkan kemampuan dalam penulisan asuhan keperawatan

BAB II PEMBAHASAN

A.  Definisi

Osteoporosis adalah suatu penyakit kelainan pada tulang yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang, kerusakan tubuh atau arsitektur tulang sehingga tulang mudah patah. Osteoporosis adalah penyakit degeneratif yaitu suatu penyakit yang berhubungan dengan usia. Tapi osteoporosis bisa dihindari atau dicegah agar jangan terjadi akibat yang lebih fatal yaitu patah tulang. Bagian tubuh yang sering terkena osteoporosis adalah :
1.      Tulang Punggung
2.      Tulang jari tangan
3.      Tulang pangkal paha

B.  Klasifikasi Osteoporosis

Dalam terapi hal yang perlu diperhatikan adalah mengenali klasifikasi osteoporosis dari penderita. Osteoporosis dibagi 3, yaitu :
  • Osteoporosis primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia dekade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena daripada pria dengan perbandingan 6-8: 1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.
  • Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain di luar tulang.
  • Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis idiopatik terjadi pada laki-laki yang lebih muda dan pemuda pra menopause dengan faktor etiologik yang tidak diketahui.

C.  Faktor Penyebab Osteoporosis

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab atau faktor–faktor yang beresiko terkena osteoporosis, antara lain :
  • Wanita, wanita lebih beresiko terhadap pria
  • Berusia di atas 50 tahun
  • Post menopause
  • Kekurangan hormon estrogen
  • Mengalami pengangkatan rahim / ovarium
  • Kurang kalsium
  • Kurang sinar matahari dan kurang vit. D
  • Kurang aktifitas fisik
  • Histori keluarga ada yang osteoporosis
  • Perokok
  • Peminum kopi dan cola / minuman bersoda
  • Peminum alcohol
  • Pengguna obat–obatan seperti Kortison, Prednison, Anti konvulsan, hormontiroid.
Osteoporosispost menopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.
Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut

D.  Gambaran Klinis

Seorang dokter harus waspada terhadap kemungkinan osteoporosis bila didapatkan :
  • Patah tulang akibat trauma yang ringan.
  • Tubuh makin pendek, kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang.
  • Gangguan otot (kaku dan lemah)
  • Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas.

E.  Pengobatan

Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kepadatan tulang.
Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita pasca menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya.
Alendronat berfungsi:
  • Mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause
  • Meningkatkan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul
  • Mengurangi angka kejadian patah tulang.
Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri.
Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung. Tambahan fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang. Tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan.
Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D,terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi.
Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron. Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat peredanyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik.

F.   Pencegahan

Pencegahan osteoporosis meliputi:
  • Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup
  • Melakukan olah raga dengan beban
  • Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu).
Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang.
Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.







Karakteristik
-    umur
-    jenis kelamin
-    keturunan

-    etnis
-    ukuran tubuh
Riwayat Penyakit
-    Disfungsi ovarium
-    Rematoid arthritis
-    hyperparatiroid
-    diabetes militus
-    stroke
-    Mal Absorbsi
-    Anorexia Nervosa
Osteoporosis
Meunoupouse
Kebiasaan Hidup
-    Merokok
-    Alkohol
-    Kafein
-    Latihan

-    Diet
-    Obat-obatan
Keterangan :
: Tidak diteliti
: Diteliti
G.  WOC








 

 

 

 

H.  Pemeriksaan Penunjang

v  Pemeriksaan Fisik
Tinggi badan dan berat badan harus diukur pada setiap penderita osteoporosis. Demikian juga gaya berjalan penderita osteoporosis, deformitas tulang, nyeri spinal. Penderita dengan osteoporosis sering menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus dan penurunan tinggi badan.
v  Pemeriksaan Radiologis
Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
v  Pemeriksaan Densitas Massa tulang (Densitometri)
Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan tulang dan resiko fraktur. untuk menilai hasil pemeriksaan Densitometri tulang, digunakan kriteria kelompok kerja WHO, yaitu:
1.      Normal bila densitas massa tulang di atas -1 SD rata-rata nilai densitas massa tulang orang dewasa muda (T-score)
2.      Osteopenia bila densitas massa tulang diantara -1 SD dan -2,5 SD dari T-score.
3.      Osteoporosis bila densitas massa tulang -2,5 SD T-score atau kurang.
4.      Osteoporosis berat yaitu osteoporosis yang disertai adanya fraktur.

ASUHAN KEPERAWATAN

A.  Pengkajian

Pengkajian pada sistem skeletal yaitu mengidentifikasi resiko pasien dan pengenalan masalah-masalah yang berkaitan dengan osteporosis, wawancara pasien mengenai riwayat keluarga, fraktur yang terjadi sebelumnya, kebiasaan diet, pola olah raga, awitan menopause dan penggunaan steroid. Amati terhadap fraktur, kifosis thorakal atau pemendekan batang tubuh saat melakukan pemeriksaan fisik.
Riwayat dislokasi pada wanita post menopouse atau kondisi yang diketahui sebagai penyebab sekunder osteoporosis. Pasien (biasanya wanita tua) mungkin melaporkan penurunan kemampuan untuk mengangkat . Pasien mengatakan nyeri beberapa lama sampai beberapa tahun.
Pengkajian
a)      Identitas klien
Identitas klien meliputi jenis kelamin, ras/suku bangsa, usia dan faktor lingkunagan ( pekerja berat )
b)      Keluhan Utama
Adanya nyeri yang timbul pada daerah yang terkena. Nyeri bertambah jika melakukan aktivitas atau bergerak. Terjadi penurunan tinggi badan dan adanya kifosis. Rasa sakit tulang punggung (bagian bawah), leher, dan pinggang, berat badan menurun.
c)      Pola Nutrisi
Kurangnya asupan kalsium, pola makan yang tiadak teratur, adanya riwayat perokok dan riwayat mengkonsumsi alkohol serta riwayat minum – minuman yang juga bersoda.
d)      Pola eliminasi
Adanya keluhan konstipasi, konstipasi diakibatkan immobilitas fisik. Pembatasan pergerakan dan deformitas spinal menyebabkan konstipasi, abdominal distance.
e)                            Endokrin
Penurunan hormon estrogen pada wanita yang memasuki masa menopause. Pada pria apakah terjadi hipogonadisme.
f)       Pola Aktivitas
Keterbatasan gerak, riwayat malas berolah raga dan kelemahan serta aktvitas yang berat.

g)      Neurosensori
Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan halus merupakan indikasi adanya fraktur satu atau lebih fraktur kompresi vertebral
h)      Pernapasan
Terjadi perubahan pernafasan pada kasus kiposis berat, karena penekanan pada fungsional paru.
i)        Skeletal
Inspeksi dan palpasi pada daerah columna vertebralis, penderita dengan osteoporosis sering menunjukkan kiposis dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Adanya perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara vertebrae thorakalis 8 dan lumbalis 3.

B.  Diagnosa Keperawatan

  1. Nyeri berhubungan dengan fraktur dan spasme otot
  2. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan fraktur yang berhubungan dengan osteoporosis tulang, dampak sekunder perubahan skletal dan ketidakseimbangan tubuh.
  3. Perubahan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder terhadap perubahan skletal (kiposis), nyeri sekunder atau frakatur baru.
  4. Gangguan konsep diri : perubahan citra tubuh dan harga diri yang berhubungan dengan proses penyakit
  5. Resiko tinggi Inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang kondisi, faktor resiko, terapi nutrisi dan pencegahan.
  6. Konstipasi berhubungan dengan imobilitas fisik

C.  Intervensi

  1. Nyeri berhubungan dengan fraktur dan spasme otot
Ø  Tujuan : nyeri berkurang atau hilang
Ø  Kriteria hasil : Klien tidak menunjukan tingakatan nyeri
Ø  Intervensi Keperawatan :
a.       Kaji tingkat skala nyeri dari interval 0 - 10
b.      Ajarkan cara menghilangkan nyeri punggung melalui tirah baring
c.       Instruksikan pasien untuk menggerakkan tubuhnya sebagai satu unit dan hindari memutar.
d.      Pasang korset lumbosakral untuk menyangga sementara ketika turun dari tempat tidur
e.       Berikan analgesik narkotik oral saat nyeri punggung ganti menjadi analgesik non narkotik setelah beberapa hari
  1. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan fraktur yang berhubungan dengan osteoporosis tulang, dampak sekunder perubahan skletal dan ketidakseimbangan tubuh.
Ø  Tujuan : Resiko cedera tidak menjadi aktual
Ø  Kriteria hasil : Klien tidak jatuh dan fraktur tidak terjadi, klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur
Ø  Intervensi Keperawatan :
a.       Tingkatkan aktivitas fisik untuk menguatkan otot, mencegah atropi disuse, dan hambat demineralisasi tulang progresif.
b.      Berikan dorongan untuk berjalan, penggunaan mekanik tubuh yang baik, dan postur tubuh yang benar
c.       Hindari membungkuk tiba-tiba, gerakan mendadak, dan mengangkat berat
d.      Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas diluar rumah di bawah sinar matahari untuk meningkatkan kemampuan tubuh memproduksi vitamin D
e.       Berikan support ambulasi sesuai dengan kebutuhan
f.       Bantu klien untuk melakukan ADL secara hati-hati
g.       Menciptakan lingkungan yang aman dan mengurangi resiko terjadinya kecelakaan.
h.      Kolaborasi dalam pemberian terapi obat – obatan misalnaya pemberian terapi hormonal dan terapi non hormonal.
  1. Perubahah mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder terhadap perubahan skletal (kiposis), nyeri sekunder atau frakatur baru.
Ø  Tujuan : Setelah diberi tindakan keperawatan diharapkan klien mampu melakukan mobilitas fisik.
Ø  Kriteria : Fungsi fisiologis yang dapat ditolerir
Klien dapat meningkatkan mobilitas fisik
Ø  Intervensi Keperawatan :
a.       Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada
b.      Bantu klien jika diperlukan latihan
c.       Dorong latihan dan hindari tekanan pada tulang seperti berjalan
d.      Instruksikan klien latihan selama kurang lebih 30 menit dan selingi dengan istirahat dengan berbaring selama 15 menit
e.       Hindari latihan fleksi, membungkuk dengan tiba-tiba dan mengangkat beban berat
f.       Anjurkan untuk pengobatan fisioterapi jika terjadi kifosis berat
  1. Gangguan konsep diri : perubahan citra tubuh dan harga diri yang berhubungan dengan proses penyakit
Ø  Tujuan : koping adekuat
Ø  Kriteria hasil : Penilaian diri terhadap penghargaan diri meningkat
a.       Bantu pasien mengekspresikan perasaan dan dengarkan dengan penuh perhatian. Perhatian sungguh-sungguh dapat meyakinkan pasien bahwa perawat bersedia membantu mengatasi masalahnya dan akan tercipta hubungan yang harmonis sehingga timbul koordinasi, ajarkan pasien menerima keadaan yang dialami.
b.      Klasifikasi jika terjadi kesalahpahaman tentang proses penyakit dan pengobatan yang telah diberikan. Klasifikasi ini dapat meningkatkan koordinasi pasien selama perawatan
c.       Bantu pasien mengidentifikasi pengalaman masa lalu yang menimbulkan kesuksesan atau kebanggan saat itu. Ini dapat membantu upaya mengenal diri kembali
d.      Identifikasi bersama pasien tentang alternative pemecahan masalah yang positif. Hal ini akan mengembalikan rasa percaya diri
e.       Bantu untuk meningkatkan komunikasi dengan keluarga dan teman

BAB III PENUTUP

A.  Kesimpulan

Dalam proses pembentukan tulang, tulang mengalami regenerasi yaitu pergantian tulang-tulang yang sudah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda, proses ini berjalan seimbang sehingga terbentuk puncak massa tulang. Setelah terbentuk puncak massa tulang, tulang masih mengalami pergantian tulang yang sudah tua dengan tulang yamg masih muda, tapi proses ini tidak berjalan seimbang dimana tulang yang diserap untuk diganti lebih banyak dari tulang yang akan menggantikan, maka terjadi penurunan massa tulang, dan bila keadaan ini berjalan terus menerus, akan terjadi osteoporosis.
Penyebab osteoporosis dipengaruhi berbagai faktor dan pada individu bersifat multifaktoral seperti gaya hidup tidak sehat dengan mengkonsumsi nutrisi dengan kadar rendah serat - tinggi lemak, kurang gerak/tidak berolah raga serta pengetahuan mencegah osteoporosis yang kurang karena konsumsi kalsium masyarakat Indonesia yang masih rendah.

B.  Saran

1.      Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien tentang penyakitnya dan untuk mencegah terjangkitnya osteoporosis.
2.      Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya osteoporosis.

 

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OSTEOPOROSIS

A.    DEFINISI
Osteoporosis yang lebih dikenal keropos tulang mnurut WHO adalah penyakit skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan perubahan mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat  meningkatnya fragilitas tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap patah tulang. Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan massa tulang total.
Menurut konsensus dikopenhagen 1990,osteoporosis didefinisikan sebagai suatu penyakit dengan karateristik massa tulang yang berkurang dengan kerusakan mikroarsitektur jaringan yang menyebabkan kerapuhan tulang dan resiko fraktur  yang meningkat (Gonta P, 1996).
B.     KLASIFIKASI
Klasifikasi osteoporosis dibagi menjadi dua,yaitu:
1)      Osteoporosis primer
Osteoporosis primer terdapat pada wanita postmenopause (postmenopause osteoporosis) dan laki-laki lanjut usia (senile osteoporosis). Penyebab osteoporosis ini belum diketahui dengan pasti.
2)      Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan Chusing’s disease, hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, kelainan hepar, gagal ginjal kronik, kurang gerak, kebiasaan minum alkohol, pemakaian obat-obatan/kortikosteroid, kelebihan kafein, dan merokok.
Osteoporosis menurut Djiwantoro D(1996) dibagi menjadi 5,yaitu:
1)      Osteoporosis postmenopause (Tipe I)
2)      Osteoporosis involutional (Tipe II)
3)      Osteoporosis idiopatik
4)      Osteoporosis juvenil dan,
5)      Osteoporosis sekunder.



1)    Osteoporosis postmenopause(Tipe I)
Merupakan bentuk yang paling sering ditemukan pada wanita kulit putih dan Asia. Bentuk osteoporosis ini disebabkan oleh percepatan resorpsi tulang yang berlebihan dan lama setelah penurunan sekresi hormon estrogen pada masa menopause.
2)    Osteoporosis involutional (Tipe II)
Terjadi pada usia diatas 75 tahun pada perempuan maupun laki-laki. Tipe ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan yang samar dan lama antara kecepatan resorpsi tulang dan kecepatan pembentikan tulang.
3)    Osteoporosis idiopatik
Adalah tipe osteoporosis primer yang jarang terjadi pada wanita premenopause dan pada laki-laki yang berusia dibawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaiotan dengan penyebab sekunder atau resiko yang mempermudah timbulnya penurunsan densitas tulang.
4)    Osteoporosis juvenil
Merupakan bentuk yang jarang terjadi dan bentuk osteoporosis yang terjadi pada anak-anak prepubertas.
5)    Osteoporosis sekunder
Penurunan desintas tulang yang cukup berat  untuk menyebabkan fraktur atraumatik  akibat  faktor ektrinsik seperti kelebihan kortikosteroid,artritis reumatoid, kelainan hati, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status gonade, dan lain-lain.

C.    ETIOLOGI
Osteopirosis postmenopause terjadi karena kekurangan hormon estrogen(hormon pada wanita),yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang pada wanita. Biasanya terjadi gejala timbul pada wanita yang berusia 51-75 tahun,  tetapi  bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki resiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopause, pada wanita kulit putih dan didaerah timur mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kedepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang  yang baru. Senilis yaitu keadaan penurunan massa tulang yang hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya hanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan dua kali lebih sering menyerang wanita. Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan postmenopause.
Kurang dari lima persn penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder,yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronik dan kelainan hormonal (terutama tiroid,paratiroid, dan adrenal), dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat  ,anti-kejang, dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan daan biasa merokok bisa memperburuk kedaan ini.
Osteoprorosis juvenil idiopstik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal,kadar  vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab jelas rapuhnya tulang.

D.    PATOFISIOLOGI
Genetik, nutrisi, gaya hidup(misal merokok, konsumsi kafein, dan alkohol), dan aktivitas mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan massa tulang mulai terjadi setelah tercapainya puncak massa tulang. Pada pria massa tulang lebih besar dan tidak mengalami perubahan hormonsl mendadak. Sedangkan pada perempuan, hilangnya estrogen pada saat mmenopause dan pada ooforektomo mengakibatkan percepatan resorpsi tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pascamenopause.
Diet kalsium dan vitamin D yang sesuai harus mencukupi untuk mempertahan kan renodelling tulang dan fungsi tubuh. Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan msaa tulang dan pertumbuhan osteoporosis. Asupan harian kalsium yang dianjurkan (RDA: Recommended Daily Alloance) meningkat pada usia 12 sampai 24 tahun (adolesent dan dewasa muda) hingga 1200 ml/hari, untuk memaksimalkan puncak masa tulang. RDA untuk orang dewasa tetap 800 ml, tetapi pada perempuan pasca menopause 1000 sampai 1500 ml/h. Sedangkan pada lansia di anjurkan mengkonsumsi kalsium dalam jumlah tidak terbatas, karena penyerapan kalsium kurang efisien dan cepat diekskresikan melalui ginjal (smeltzer,2002).
Demikian pula, bahan katabolik endogen (diproduksi dalam tubuh) dan eksogen dapat menyebabkan osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid yang lama, sindrom cushing, hipertiroidisme, dan hiperparatiroidisme menyebabkan kehilangan tulang. Obat obatan isoniazid, heparin, tetraciklin, antasida, yang mengandung aluminium, urosemid, antikonvulsan, kortikosteroid, dan suplemen tiroid mempengaruhi penggunaan tubuh dan metabolisme kalsium.
Imobilitas juga mempengaruhi terjadinya osteoporosis. Ketika di imobilisasi dengan gips, paralisis atau inaktifitas umum, tulang akan diresorssi lebih cepat dari pembentukannya sehingga terjadi osteoporosis.

E.     FAKTOR RESIKO
Faktor penting yang mempengaruhi  terjadinya osteoporosis dapat berasal dari faktor diet, fisik, sosial, medis, iatrogenik, dan faktor genetik. Kalsium yang tidak memadai, posfet atau protein yang berlebihan dan juga masukan fitamin yang tidak memadai pada orang tua. Faktor resiko yamg merupakan faktor fisik yaitu : imobolisasi dan gaya hidup terus menerus (sedentary). Kebiasaan menggunakan alkohol, sigaret, dan cafein adalah faktor sosial yang memicu terjadinya osteoporosis.
Selain faktor di atas, kelainan kronis, endokrinopati, penggunaan kortikostiroid, penggantian hormon tiroid yang berlebihan, kemoterapi, loopdiuretik, anti konfulsan, tetrasiklin, dan terapi radiasi merupakan faktor medis dan iatrogenik. Genetik atau familial, biasanya berhubungan dengan masa tulang sub optimal masa maturitas.

F.      MANIFESTASI KLINIK
Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejela pada penderita. Jika kepadatan tulang berkurang menyebabkan tulang menjadi kolab atau hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Tulang tulang yang terutama  terpengaruh terhadap osteoporosis adalah radius distal, corpus vertebra terutama mengenai T8 – L4,dan kollum femoris.
Kolab tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolab secara spontan atau karena cidera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan mennghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Douwager), yang menyebabkan terjadinya ketegangan otot dan rasa sakit.
Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul.
Selain itu, yang juga sering terjadi patah tulang lengan (radius) didaerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami penyembuhan secara perlahan.

G.    DIAGNOSIS
Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoprosis ditegakan berdasakan gejala, pemeriksaan fisik, dan rontgent tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya yang menyebabkan osteoporosis.
Untuk mendiagnosis osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Pemeriksaan tulang yang paling akurat dual-energy X-ray absorptiometri (DXA). Pemeriksaan ini aman dan tidak menimbulan nyeri, bisa dilakukan dalam waktu 5 – 25 menit. DXA sangat berguna wanita yang memiliki resiko tinggi menderita osteoporosis, penderita yang dianosinya belum pasti, dan penderita yang hasil pengobatannya harus dinilai dengan akurat.

H.    PENCEGAHAN
Pencegahan osteoporosis meliputi : mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengkonsumsi jumlah kalsium yang cukup, melakukan olga dengan beban sesuai kemampuan, dan mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu) mengonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal ( sekitar umur 30 tahun). Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium.
Sebaikya semua wanita minum tablet kalsium setiap hari, dosis harian yang dianjurkan adalah 1,5 gram kalsium. Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga tutup kurung akan meningkatkan kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang. Ekstrogen membantu meningkatkan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan progesteron. Terapi sulih ekstrogen paling efektif dimulai dalam 4 – 5 tahun setelah menopouse, tetapi  jika baru dimulai lebih dari 6 tahun sertelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Raloksifen merupakan obat menyerupai ekstrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif dari pada ekstrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara dan rahim. Untuk mencegah osteoporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa diginakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

I.       PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita,terutama yang menderita osteoporosis,harus mengkonsumsi kalsium dan  vitamin D dalam jumlah yang mencukupi.  Diet tinggi kalsium dan vitamin D yang mencukupi  dan seimbang  sepanjang  hidup. Diet ditingkatkan pada awal usia pertengahan karena dapat melindungi  tulang dari demineralisasi skeletal. Tiga gelas susu krim atau makanan lain yang kaya kalsium (misal keju,brokoli kukus, salmon kaleng). Untuk mencukupi asupan kalsium perlu diresepkan preparat kalsium (kalsium karbonat).
Dengan ekstrogen dan progesteron perlu diresepkan bagi perempuan  menopause, untuk memperlambat  kehilangan  tulang dan mencegah terjadinya patah tulang. Perempuan yang telah menjalani  pengangkatan ovarium atau telah mengalami menopause prematur dapat mengalami osteoporosis pada usia muda. Ekstrogen dapat mengurangi resorpsi tulang tapi tidak meningkatkan massa tulang. Penggunaan hormon jangka panjang masih dievaluasi. Terapi ekstrogen sering dihubungkan dengan sedikit peningkatan insiden kanker payudara dan endometrial. Oleh karena itu, selama HRT klien diharuskan memeriksakan payudaranya setiap bulan dan diperiksa panggulnya, termasuk asupan papaninicolaou dan biopsi endometrial (bila ada indikasi), sekali atau dua kali setahun.
            Pemberian ekstrogen secara oral memerlukan dosis terendah ekstrogen terkonyugasi sebesar 0,625 mg per hari atau 0,5 mg/hari ekstradiol. Pada osteoporosis,sumsum tulang dapat kembali seperti pada masa premenopause dengan pemberian ekstrogen. Dengan demikian hal tersebut menurunkan resiko fraktur.
            Perlu juga meresepkan obat-obat lain,dalam upaya menanggulangi osteoporosis termasuk kalsitonin, natrium fluorida, bifosfonat, natrium etidronat, dan alendronat. Alendronat berfungsi mengurangi kecepatan penyebaran tulang pada wanita pascamenopause, meningkatkan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul, dan mengurangi angka kejadian  patah tulang. Agar alendronat dapat diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit kemudian tidak boleh makan minum lainnya. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas,sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak boleh diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri.
suntikan subkutan, intramusculer atau semprot hidung. Efek samping, berupa gangguan gastrointestinal, aliran panas, peningkatan frekuensi urine biasanya terjadi dan ringan. Natrium flourida memperbaiki aktifitas osteoblastik dan pembentukan tulang,namun kualitas tulang yang baru masih dalam pengkajian. Natrium etidronat menghalangi resorpsi tulang osteoklastik, dan dalam penelitian untuk efisiensi sebagai terapi osteoporosis.
            Tambahan flourida bissa meningkatkan kepadatan tulang  tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan. Pria ang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi.  Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron.
            Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki  dengan pembedahan. Pada kalops tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik.

J.       DAMPAK PSIKOLOGI
Dampak psikologis osteoporosis pada wanita,  merupakan bahasa yang banyak disampaikan dan akan diuraikan secara singkat pada buku ini. Menurut Dharmo S (2008), Fraktur osteoporosis menimbulkan banyak kesulitan bagi penderitanya. Perubahan bentuk tubuh (deformitas, kifosis), kehilangan kemampuan aktivitas mandiri, gangguan nyeri kronis, dan keterbatasan aktivitas. Depresi, ansietas, gangguan tidur, dan ketakutan akan jatuh adalah masalah psikologis yang sering timbul pada klien osteoporosis.
Beberapa penelitian membuktikan, terdapat hubungan erat antara depresi dan osteoporosis, sifat hubungannya timbal balik. Ketidak mampuan klien osteoporosis memilih mekasnisme koping  yang rasional dalam menghadapi keterbatasannya, akan memicu timbulnya depresi. Sebaliknya, makin sering seseorang mengalami stress dan depresi, akan memicu disregulasi hormon tubuh, khususnya kortisol yang berpengaruh buruk terhadap osteophenia dan osteoporosis.
            Ansitas dan gangguan tidur, termasuk masalah yang sering di jumpai pada klien osteoporosis. Ansietas bila muncul dalam bentuk berat berupa serangan panik akut, atau kecemasan berlebihan terhadap masa depan.  Gangguan tidur sering terkait dengan nyeri kronis, atau BAK yang frekuensi. Ansietas biasanya timbul dalam bentuk ketakutan yang berlebihan dan kadang tidak masuk akal. Klien menjadi sangat hati – hati, mengurangi secara drastis kegiatan olahraganya.

K.    PENGKAJIAN
Dasar pengkajian keperawatan meliputi promosi kesehatan, identivikasi individu dengan resiko mengalami osteoporosis, dan penemuan masalah yang berhubungan dengan osteoporosis. Wawancara meliputi pertannyaan mengenai terjadinya osteoporosis dalsm keluarga, terjadi fraktur sebelumnya, diet konsumsi kslsium harian, pola aktivitas harian, awitan menopause, penggunaan obat korti koteroid, asupan alkohol, rokok, dan kafein. Perawat perlu mengkaji gejala yang di alami klien, seperti sakit pinggang konstipasi, dan gangguan citra diri.
            Pada pemeriksaan fisik sering di temukan fraktur, kifosis vertebra torakalis atau pengurangan tinggi badan. Masalah mobilitas dan pernafasan dapat terjadi akibat perubahan postur dan kelemahan otot. Inaktivitas dapat menyebabkan terjadinya konstipasi.

L.     DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Diagnosis keperawatan yang dapat di temukan pada klien fraktur vertebra sepontan akibat osteoporosis (smeltzer,2002), antara lain kurang pengetahuan tentang proses osteoporosis dan program terapi, nyeri berhubungan dengan fraktur dan sepasme otot, konstipasi berhubungan dengan immobilitas aktivitas atau terjadianya ileus (obstruksi usus), dan resiko terjadi cedera (fraktur berhubungan dengan tulang osteoporosis). Sedangkan diagnosis keperawatan untuk osteoporosis secara umum menurut carpenito (1995) adalah resiko tinggi regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan insufisiensi pengetahuan, faktor – faktor resiko, terapi nutrisi dan prefensi.
            Berdasarkan dua pendapat di atas, maka dapat di simpulkan diagnosis keperawatan pada klien osteoporosis adalah sebagai berikut :

1.      Kurang pengetahuan tentang proses osteoporosis dan program terapi.
2.      Nyeri berhubungan dengan fraktur dan sepasme otot.
3.      Konstipasi berhubungan dengan inmobilitas atau terjadinya ileus(obstruksi usus).
4.      Resiko terjadinya cidera : fraktur berhubungan tulang osteoporosis.
5.      Resiko tinggi regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan insufisiensai pengetahuan, faktor - faktor resiko ,terapi nutrisi, dan prefensi.

M.   RENCANA KEPERAWATAN
Rencana asuhan keperawatan pada klien osteoporosis di bawah ini disusun meliputi diagnosis keperawatan, tindakan keperawatan, dan kriterian keberhasil tindakan (kriteria evaluasi).

Diagnosis Keperawatan: Kurang pengethuan tentang proses osteoporosis dan program terapi.
Tindakan

Kriteria Evaluasi:

 1. Jelaskan kepada klien tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis, intervensi, dan upaya mengurangi gejala.
2. Konsultasikan dengan ahli gizi utuk pemberian kalsium yang cukup.
3. Menjelskan manfaat asupan kalsium
4. Konsultasikan latihan pembebanan teratur.
5. Anjurkan modifikasi gaya hidup
seperti mengurangi kafein, berhenti merokok, dan alkohol.
6.Jelaskan efek samping
konsumsi kalsium,yaitu nyeri lambung dan distensi abdomen .
7. Minum obat:kalsium sesuai order
(misal bersama makanan lain).
8.Anjurkan banyak minum untuk mencegah pembentukan batu ginjal.
9.Jelaskan pentingnya pemeriksaan berkala terhadap indikasi kanker payu dara dan endometrium,bila mengkonsumsi HRT. 

Klien menjukkan pemahaman terhadap program terapi :
●Menyebutkan hubungan asupan kalsium dan latihan terhadap massa tulang;
●Mengkonsumsi diet kalsium dengan jumlah mencukupi;
●Meningkatkan tingkat latihan;
●Menggunakan terapi hormon yang
di resepkan;
●Menjalani prosedur skrining
sesuai anjuran.


                                                           
Diagnosois keperawatan : Nyeri berhubungan dengan fraktur dan spasme otot.
Tindakan
Kriteria Evaluasi
1.      Anjurkan klien istirahat ditempat tidur dengan posisi terlentang atau miring kesamping.
2.      Fleksikan lutut selama istirahat.
3.      Berikan kompres hangat dan pijatan pinggang.
4.      Anjurkan klien untuk menggerakkan ekstremitasnya,namun tidak boleh melakukan gerakan memuntir.
5.      Pasang korset lumbosakral,untuk menyokong atau imobilisasi sementara ketika klien turun dari tempat tidur.
6.      Berikan opiod oralpada hari-hari pertama setelah nyeri punggung.
Klien menunjukkan peredaan nyeri:
● Mengatakan nyeri reda saat istirahat;
● Rasa ketidaknyamanan minimal selama aktivitas sehari-hari;
● Menunjukkan berkurangnya nyeri tekan pada tempat fraktur.

Diagnosis keperawatan: Konstipasi berhubungan dengan imobilitas atau terjadinya ileus(obstruksi usus).
Tindakan
Kriteria Evaluasi:
1.      Berikan diet tinggi serat.
2.      Anjurkan banyak minum sesuai aturan.
3.      Berikan obat pelunak feses sesuai order.
4.      Pantau asupan klien,bising usus,dan aktivitas usus.
Klien menunjukkan pengosongan usus yang normal.
● Bising usus aktif.
● Gerakan usus teratur.

Diagnosis Keperawatan : Resiko terjadi cedera:fraktur berhubungan dengan tulang osteoporosis.
Tindakan
Kriteria Evaluasi
1.      Dorong klien untuk latihan memperkuat otot,mencegah atrofi,dan menghambat demineralisasi tulang progresif.
2.      Latihan osometrik,untuk memperkuat otot batang tubuh.
3.      Jelaskan kepada klien pentingya menghindari membungkuk mendadak,melenggok,dan mengangkat beban lama.
Klien tidak mengalami fraktur baru:
● Mempertahankan postur tubuh yang bagus;
● Mempergunakan mekanika tubuh yang baik;
● Mengkonsumsi diet seimbang tinggi kalsium dan vitamin D;
● Rajin menjalankan latihan pembebanan berat badan(berjalan-jalan setiap hari);
● Istirahat dengan berbaring beberapa kali sehari;
● Berpartisipasi dalam aktifitas di luar rumah;
● Menciptakan lingkungan rumah yang nyaman;
● Menerima bantuan dansupervisi kebutuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Wirakusumah S. 2007. Mencegah Osteoporosiss. Jakarta: Penebar Swadaya.
Yatim F. 2003. Osteoporosis (Penyakit Kerapuhan Tulang pada Manula). Jakarta: Pustaka Pelopor Obor.
Bobak, dkk. 2005. Maternity Nursing Edisi IV, Keperawatan Maternitas. Alih bahasa: Maria A. Wijayariny dan Peter I. Anugerah. Jakarta: EGC.
Hilman Hilmansyah, 2007. Kenali Osteoporosis Sejak Dini dalam http://kliniknet.com/3 September
Lane. 2003. The Osteoporosis Book A Guide for Patient and Their Families, Lebih Lengkap tentang: Osteoporosis Rapuh Tulang. Alih Bahasa oleh : Eri D. Nasution. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Lukmann dan Nurnaningsih.2009.Askep Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuluskeletal. Jakarta:Salemba Medika.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar