Total Tayangan Laman

Sabtu, 04 Agustus 2012

MAKALAH POLIP HIDUNG, SINUSITIS, &RHINITIS ALERGIKA


MAKALAH
POLIP HIDUNG, SINUSITIS, &RHINITIS ALERGIKA
logostikes
Di Susun Oleh :
Arif Tri M.
Diyah Retno P.
M. Khotib.
Nur Laela P.
Sri Rahayu.
Thony setyawan.
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
“INSAN CENDEKIA MEDIKA “
JOMBANG
2010-2011
Jl. K.H. Hasyim Asy’ari 171, Mojosongo – Jombang

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaium Wr. Wb.
Alhamdulilllah kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk dapat melaksanakan dan menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan karena keterbatasan data dan pengetahuan penulis serta waktu yang ada saat ini, dengan rendah hati penulis makalah ini mengharap kritik dan saran yang membangun dari kalangan pembimbing untuk kesempurnaan makalah yang kami kerjakan ini.
Selanjutnya, kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu tersellesaikanya kegiatan fortofolio untuk mata kuliah sistem Persepsi Sensori, terutama kepada dosen pembimbing. Terlepas dari semua kekurangan penulisan maklah ini, baik dalam susunan dan penulisanya yang salah, penulis memohon maaf dan berharap semoga penulisan makalas ini bermanfaat khususnya kepada kami selaku penulis dan umumnya kepada pembaca yang budiman.
Akhirnya, semoga Allah senantiasa meberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang mencintai pendidikan. Amin Ya Robbal Alamin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
                                                                              Jombang, November 2010


                                                                                          Tim Penulis



DAFTAR ISI
Halaman Judul            …………………………………………………………………………1
Kata pengantar            …………………………………………………………………………2
Daftar isi                     …………………………………………………………………………3
BAB I PENDAHULUAN     …………………………………………………………………4
BAB II PEMBAHASAN      …………………………………………………………………5
DAFTAR PUSTAKA            ………………………………………………………………………..32
















BAB I
PENDAHULUAN
Bila anda mengalami hidung tersumbat yang menetap dan semakin lama semakin berat ditambah dengan ingus yang selalu menetes serta gangguan fungsi penciuman, kemungkinan besar anda menderita polip hidung. Polip hidung terjadi karena munculnya jaringan lunak pada rongga hidung yang berwarna putih atau keabuan. Jaringan ini bisa diamati langsung dengan mata telanjang setelah lubang hidung diperbesar dengan alat spekulum hidung.
Polip hidung biasanya menyerang orang dewasa yang kemungkinan disebabkan oleh karena reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung yang berlangsung lama. Beberapa faktor lain yang meningkatkan kemungkinan terkena polip hidung antara lain sinusitis (radang sinus) yang menahun, iritasi, sumbatan hidung oleh karena kelainan anatomi dan adanya pembesaran pada konka.











BAB II
PEMBAHASAN
POLIP HIDUNG
Polip hidung merupakan salah satu jenis penyakit telinga, hidung dan tenggorok (THT) yang sudah umum didengar di masyarakat. Sebagian orang sering menyebutnya sebagai tumbuh daging dalam hidung. Sebagian orang juga menamainya tumor hidung. Polip Hidung sebenarnya adalah suatu pertumbuhan dari selaput lendir hidung yang bersifat jinak.
Polip nasi atau polip hidung adalah kelainan selaput permukaan / selaput lendir  hidung  dan sinus paranasal berupa  tumbuhnya massa lunak yang bertangkai, yang bersifat jinak, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan  yang terjadi akibat inflamasi mukosa yang berkepanjangan dalam lapisan hidung atau sinus. Jaringan ini bisa diamati langsung dengan mata telanjang setelah lubang hidung diperbesar dengan alat spekulum hidung.

Polip hidung bukan penyakit yang murni berdiri sendiri. Pembentukannya sangat terkait erat dengan berbagai problem THT lainnya seperti rinitis alergi, asma, radang kronis pada mukosa hidung-sinus paranasal, kista fibrosis, intoleransi pada aspirin.
Sampai saat ini para pakar belum mendapatkan jawaban secara pasti apa yang mendasari munculnya benjolan putih keabu-abuan bertangkai itu. Namun dari studi dan pengamatan medis, baru ditemukan ada sejumlah faktor yang “memudahkan” pemunculan benjolan itu. Antara lain radang kronis yang berulang pada mukosa hidung dan sinus paranasal, gangguan keseimbangan vasomotor, peningkatan cairan interstitial serta oedema (pembengkakan) mukosa hidung
Polip hidung adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan didalam rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak dibawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi adalah adanya rhinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang mengemukakan berbagai teori dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti.
Polip hidung merupakan suatu pertumbuhan sel yang bersifat jinak di selaput lendir hidung. Kemungkinan penyebabnya adalah reaksi hipersensitif atau alergi pada mukosa hidung.
Polip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung, bewarna putih keabu-abuan yang terjadi akibat inflamasi mukosa.

Penyebab
Penyebab terjadinya polip tidak diketahui, tetapi beberapa polip tumbuh karena adanya pembengkakan akibat infeksi. Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitifitas atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu – raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip.
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :
1.      Alergi terutama rinitis alergi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitifitas atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan  infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu – raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip.

2.      Sinusitis kronik (radang sinus) yang menahun
Polip hidung juga bisa menyebabkan penyumbatan pada drainase lendir dari sinus ke hidung. Penyumbatan ini menyebabkan tertimbunnya lendir di dalam sinus. Lendir yang terlalu lama berada di dalam sinus bisa mengalami infeksi dan akhirnya terjadi sinusitis.
biasanya gejala polip disertai dengan adanya rasa pusing, batuk, dan pilek serta hidung tersumbat yang biasanya hal ini akan dikeluhkan pada pasien yang mengalami sinusitis alergi.

3. Iritasi (Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik berulang )
4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka
5. Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik dan berulang
6. Gangguan keseimbangan vasomotor
7. Edema
awalnya ditemukan bengkak selaput permukaan yang kebanyakan terdapat pada meatus medius, kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga selaput permukaan yang sembab menjadi berbenjol-benjol sehingga timbul edema mukosa hidung. Bila proses terus membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai sehingga terjadi Polip.

 Peningkatan tekanan cairan interstitial sehingga timbul edema mukosa hidung.   Terjadinya edema ini dapat dijelaskan oleh fenomena Bernoulli, yaitu udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan menimbulkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya sehingga jaringan yang lemah ikatannya akan terisap oleh tekanan negatif tersebut. Akibatnya timbulah edema mukosa. Keadaan ini terus berlangsung hingga terjadilah polip hidung.
Ada juga bentuk variasi polip hidung yang disebut polip koana (polip antrum koana). Polip koana (polip antrum koana) adalah polip yang besar dalam nasofaring dan berasal dari antrum sinus maksila. Polip ini keluar melalui ostium sinus maksila dan ostium asesorisnya lalu masuk ke dalam rongga hidung kemudian lanjut ke koana dan membesar dalam nasofaring.
Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah.
Polip sering ditemukan pada penderita:
- Rinitis alergika
- Asma
- Sinusitis kronis
- Fibrosis kistik.
Gejalanya
Ketika baru terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata dan jika telah matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna keabu-abuan.Polip Hidung kecil biasanya dapat dideteksi sewaktu endoskopi hidung rutin. Jarang menimbulkan masalah-masalah yang berarti. Namun, Polip Hidung yang lebih besar biasanya menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut:
http://www.entoms.com/images/share/spacer.gif
http://www.entoms.com/images/share/spacer.gif



·         Penyumbatan hidung
Karena indera perasa berhubungan dengan indera penciuman, maka penderita juga bisa mengalami penurunan fungsi indera perasa dan penciuman
·         Rasa sakit dan tidak nyaman di bagian wajah atau kening
·         Hilangnya indera penciuman (hiposmia)
·         Bau busuk dari hidung
·         menyebabkan penyumbatan  drainase lendir dari sinus ke hidung.
Penyumbatan ini menyebabkan tertimbunnya lendir di dalam sinus. Lendir yang terlalu lama berada di dalam sinus bisa mengalami infeksi dan akhirnya terjadi sinusitis.
·         Hidung tersumbat
sumbatan ini menetap dan tidak hilang timbul. Semakin lama keluhan dirasakan semakin berat. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus
·         Penyumbatan telinga karena penyumbatan pembuluh yang menghubungkan hidung ke telinga
·         sering bersuara sengau dan bernafas melalui mulutnya
·         snoring (ngorok), gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.
·         Polip sangat besar yang tak diobati mungkin dapat mengubah bentuk hidung
Bagi Penderita biasanya mengeluhkan hidung tersumbat, penurunan indra penciuman, dan gangguan pernafasan. Akibatnya penderita bersuara sengau. Polip biasanya tumbuh di daerah dimana selaput lendir membengkak akibat penimbunan cairan, seperti daerah di sekitar lubang sinus pada rongga hidung.
Ketika baru terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata dan jika telah matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna keabu-abuan.
Patogenesis
Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetik. Menurut teori Brenstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang bertubulensi,  terutama di daerah sempit di kompleks ostiomeatal. Terjadi  prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip.
Teori lain mengatakan karena ketidakseimbAngan saraf vasomotor, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vascular yang menyebabkan edema dan lama kelamaan menjadi polip.
Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab semakin membesar menjadi polip dan kemudian akan turun ke rongga hidung dengan membentuk tangkai.
Patofisiologi
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil), sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat sambil membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip.
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Setelah polip terus membesar di antrum, akan turun ke kavum nasi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perenial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus medial.
Sayangnya bila faktor yang menyebabkan terjadinya polip tidak teratasi maka polip hidung ini rawan untuk kambuh kembali demikian berulang ulang. Oleh sebab itu sangat diharapkan kepatuhan pasien untuk menghindari hal hal yang menyebabkan alergi yang bisa menjurus untuk terjadinya polip hidung
Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan adalah mengatasii polip dan menghindari penyebab atau faktor pendorong polip.
Ada 3 macam terapi polip hidung, yaitu :
·         Medikamentosa : kortikosteroid, antibiotik & anti alergi.
Terapi medikamentosa ditujukan pada polip yang masih kecil yaitu pemberian kortikosteroid sistemik yang diberikan dalam jangka waktu singkat, dapat juga diberiksan kortikosteroid hidung atau kombinasi keduanya.Tujuan utama pengobatan adalah mengatasi polip dan menghindari penyebab atau faktor pemicu terjadinya polip.
Untuk polip edematosa, dapat diberikan pengobatan kortikosteroid, Berikan kortikosteroid pada polip yang masih kecil dan belum memasuki rongga hidung. Caranya bisa sistemik, intranasal atau kombinasi keduanya. Gunakan kortikosteroid sistemik dosis tinggi dan dalam jangka waktu singkat. Berikan antibiotik jika ada tanda infeksi. Antibiotik sebagai terapi kombinasi pada polip hidung bisa kita berikan sebelum dan sesudah operasi. Berikan antibiotik bila ada tanda infeksi dan untuk langkah profilaksis pasca operasi.Berikan anti alergi jika pemicunya dianggap alergi.
obat kortikosteroid berupa :
ü  Oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari, kemudian dosis diturunkan perlahan – lahan (tappering off)
ü  Suntikan intrapolip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5 cc, tiap 5 – 7 hari sekali, sampai polipnya hilang.
ü  Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid, merupakan obat untuk rinitis alergi, sering digunakan bersama atau sebagai lanjutan pengobatn kortikosteroid per oral. Efek sistemik obat ini sangat kecil, sehingga lebih aman. Polip cenderung tumbuh kembali jika penyebabnya (alergi maupun infeksi) tidak terkontrol. Pemakaian obat semprot hidung yang mengandung corticosteroid bisa memperlambat atau mencegah kekambuhan dan kadang bisa memperkecil ukuran polip atau bahkan menghilangkan polip.
·         Operasi : polipektomi & etmoidektomi.
Untuk polip yang ukurannya sudah besar  dan sifatnya berat maka dilakukan pembedahan untuk memperbaiki drainase sinus dan membuang bahan-bahan yang terinfeksi
Pembedahan dilakukan jika :
ü  Polip menghalangi saluran nafas
ü  Polip menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi sinus
ü  Polip berhubungan dengan tumor
ü  Pada anak – anak dengan multipel polip atau kronik rhinosinusitist yang gagal  pengobatan maksimum dengan obat- obatan.
Untuk polip yang ukurannya sudah besar dilakukan ektraksi polip (polipektomi) dengan menggunakan senar polip.
Polipektomi merupakan tindakan pengangkatan polip menggunakan senar polip dengan bantuan anestesi lokal, untuk polip yang besar dan menyebabkan kelainan pada hidung, memerlukan jenis operasi yang lebih besar dan anestesi umum.  Kategori polip yang diangkat adalah polip yang besar namun belum memadati rongga hidung. Polipektomi sederhana cukup efektif untuk memperbaiki gejala pada hidung, khususnya pada kasus polip yang tersembunyi atau polip yang sedikit. Surgical micro debridement merupakan prosedur yang lebih aman dan cepat, pemotongan jaringan lebih akurat dan mengurangi perdarahan dengan visualisasi yang lebih baik.
Etmoidektomi atau bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan tindakan pengangkatan polip sekaligus operasi sinus, merupakan teknik yang lebih baik yang tidak hanya membuang polip tapi juga membuka celah di meatus media yang merupakan tempat asal polip yang tersering sehingga akan membantu mengurangi angka kekambuhan. Kriteria polip yang diangkat adalah polip yang sangat besar, berulang, dan jelas terdapat kelainan di kompleks osteomeatal. Antibiotik sebagai terapi kombinasi pada polip hidung bisa kita berikan sebelum dan sesudah operasi.Berikan antibiotik bila ada tanda infeksi dan untuk langkah profilaksis pasca operasi.
bila faktor yang menyebabkan terjadinya polip tidak teratasi maka polip hidung ini rawan untuk kambuh kembali demikian berulang ulang. Oleh sebab itu sangat diharapkan kepatuhan pasien untuk menghindari hal hal yang menyebabkan alergi yang bisa menjurus untuk terjadinya polip hidung.
Di samping harus menjalankan pengobatan, penderita penyakit ini juga harus berpantangan menyantap makanan yang bisa menimbulkan alergi, seperti udang, kepiting, dan tongkol. Selain itu juga harus menjauhi media penyebab alergi, berupa debu, serbuk sari (polen), bulu binatang, asap rokok, dan asap pabrik.
·         Kombinasi : medikamentosa & operasi.
Pencegahan
1. Mengatur alergi dan asma. Mengikuti pengobatan dokter rekomendasi untuk mengelola asma dan alergi. Jika gejala tidak mudah dan secara teratur di bawah kendali, konsultasi dengan dokter Anda tentang perubahan rencana pengobatan Anda.
2. Hindari iritasi. Sebisa mungkin, hindari hal-hal yang mungkin untuk memberikan
kontribusi untuk peradangan atau iritasi sinus Anda, seperti alergen, polusi udara dan
bahan kimia.
3.Hidup bersih yang baik. Cuci tangan Anda secara teratur dan menyeluruh. Ini adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi terhadap infeksi bakteri dan virus yang dapat menyebabkan peradangan pada hidung dan sinus.
4. Melembabkan rumah Anda. Gunakan pelembab ruangan jika Anda memiliki udara kering di rumah Anda. Hal ini dapat membantu meningkatkan aliran lendir dari sinus Anda dan dapat membantu mencegah sumbatan dan peradangan.
5.Gunakan bilasan hidung atau nasal lavage. Gunakan air garam (saline) spray atau nasal lavage untuk membilas hidung. Hal ini dapat meningkatkan aliran dan
menghilangkan lendir penyebab alergi dan iritasi. Anda dapat membeli semprotan saline
atau lavage nasal dengan perangkat, seperti sedotan, untuk mngantarkan bilasan. Anda
dapat membuat solusi sendiri dengan mencampurkan 1 / 4 sendok teh (1.2 ml) garam
dengan 2 cangkir (0,5 liter) air hangat. Hindari air garam semprot yang mengandung zat
aditif yang dapat membakar lapisan mukosa hidung Anda
Diagnosis
Cara menegakkan diagnosa polip hidung, yaitu :
·         Anamnesis
Gejala utama penderita polip nasi ialah hidung tersumbat, mungkin disertai bersin–bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah frontal, terasa ada massa didalam hidung, gangguan penciuman seperti anosmia & hiposmia. Gejala sekunder seperti post nasal drip, sakit kepala, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga rasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup juga dapat terjadi bila disertai kelainan jaringan dan organ di sekitarnya.
·         Pemeriksaan fisik
ü  Inspeksi
Terlihat deformitas hidung luar sehingga hidung tampak melebar
ü  Rhinoskopi anterior
Memperlihatkan massa translusen pada rongga hidung. Deformitas septum membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit. Tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter. Polip kadang perlu dibedakan dengan konka nasi inferior, yakni dengan cara memasukan kapas yang dibasahi dengan larutan efedrin 1% (vasokonstriktor), konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah akan mengecil, sedangkan polip tidak mengecil. Polip dapat diobservasi berasal dari daerah sinus etmoidalis, ostium sinus maksilaris atau dari septum
ü  Rhinoskopi Posterior
Kadang - kadang dapat dijumpai polip koanal.Sekret mukopurulen ada kalanya berasal dari daerah etmoid atau rongga hidung bagian superior, yang menandakan adanya rinosinusitis.  Mudah melihat polip yang sudah masuk ke dalam rongga hidung.
·         Endoskopi
Untuk melihat polip yang masih kecil dan belum keluar dari kompleks osteomeatal.
http://www.medicalera.com/images/664/polip%202.JPG
  • Foto polos rontgen & CT-scan  : Untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal ( adanya sinusitis )
  • Biopsi : Di anjurkan jika terdapat massa unilateral pada pasien berusia lanjut, menyerupai keganasan pada penampakan makroskopis dan ada gambaran erosi tulang pada foto polos rontgen.


SINUSITIS
Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan kanan. Sinus frontalis terletak di bagian dahi, sedangkan sinus maksilaris terletak di belakang pipi. Sementara itu, sinus sphenoid dan sinus ethmoid terletak agak lebih dalam di belakang rongga mata dan di belakang sinus maksilaris. Dinding sinus terutama dibentuk oleh sel sel penghasil cairan mukus. Udara masuk ke dalam sinus melalui sebuah lubang kecil yang menghubungkan antara rongga sinus dengan rongga hidung yang disebut dengan ostia. Jika oleh karena suatu sebab lubang ini buntu maka udara tidak akan bisa keluar masuk dan cairan mukus yang diproduksi di dalam sinus tidak akan bisa dikeluarkan.

Definisi
Sinusitis berasal dari akar bahasa Latinnya, akhiran umum dalam kedokteran itis berarti peradangan karena itu sinusitis adalah suatu peradangan sinus paranasal. Di sekitar rongga hidung terdapat empat sinus yaitu sinus maksilaris ( terletak di pipi) , sinus etmoidalis ( kedua mata) , sinus frontalis (terletak di dahi) dan sinus sfenoidalis ( terletak di belakang dahi).
Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Sinusitis banyak ditemukan pada penderita hay fever yang mana pada penderita ini terjadi pilek menahun akibat dari alergi terhadap debu dan sari bunga. Sinusitis juga dapat disebabkan oleh bahan bahan iritan seperti bahan kimia yang terdapat pada semprotan hidung serta bahan bahan kimia lainnya yang masuk melalui hidung. Jangan dilupakan kalau sinusitis juga bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.

Penyebab
Sinusitis dapat terjadi bila terdapat gangguan pengaliran udara dari dan ke rongga sinus serta adanya gangguan pengeluaran cairan mukus. Adanya demam, flu, alergi dan bahan bahan iritan dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan pada ostiasehingga lubang drainase ini menjadi buntu dan mengganggu aliran udara sinus serta pengeluaran cairan mukus. Penyebab lain dari buntunya ostia adalah tumor dan trauma. Drainase cairan mukus keluar dari rongga sinus juga bisa terhambat oleh pengentalan cairan mukus itu sendiri. Pengentalan ini terjadi akibat pemberiaan obat antihistamin, penyakit fibro kistik dan lain lain. Sel penghasil mukus memiliki rambut halus (silia) yang selalu bergerak untuk mendorong cairan mukus keluar dari rongga sinus. Asap rokok merupakan biang kerok dari rusaknya rambut halus ini sehingga pengeluaran cairan mukus menjadi terganggu. Cairan mukus yang terakumulasi di rongga sinus dalam jangka waktu yang lama merupakan tempat yang nyaman bagi hidupnya bakteri, virus dan jamur.
Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis :
·         Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis
·         Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar)
Pada Sinusitis Akut, yaitu:
1. Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
2. Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
3. Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
4. Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
5. Septum nasi yang bengkok
6. Tonsilitis yg kronik

Macam-Macam Sinusitis
Sinusitis dapat dibagi menjadi dua tipe besar yaitu berdasarkan lamanya penyakit (akut, subakut, khronis) dan berdasarkan jenis peradangan yang terjadi (infeksi dan non infeksi). Disebut sinusitis akut bila lamanya penyakit kurang dari 30 hari. Sinusitis subakut bila lamanya penyakit antara 1 bulan sampai 3 bulan, sedangkan sinusitis khronis bila penyakit diderita lebih dari 3 bulan. Sinusitis infeksi biasanya disebabkan oleh virus walau pada beberapa kasus ada pula yang disebabkan oleh bakteri. Sedangkan sinusitis non infeksi sebagian besar disebabkan oleh karena alergi dan iritasi bahan bahan kimia. Sinusitis subakut dan khronis sering merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak mendapatkan pengobatan adekuat.
Gejala
Gejala sinusitis yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri pada daerah wajah, serta demam. Hampir 25% dari pasien sinusitis akan mengalami demam yang berhubungan dengan sinusitis yang diderita. Gejala lainnya berupa wajah pucat, perubahan warna pada ingus, hidung tersumbat, nyeri menelan, dan batuk. Beberapa pasien akan merasakan sakit kepala bertambah hebat bila kepala ditundukan ke depan. Pada sinusitis karena alergi maka penderita juga akan mengalami gejala lain yang berhubungan dengan alerginya seperti gatal pada mata, dan bersin bersin.
Gejala sinusitis yang biasanya terjadi adalah :
1. Pilek yang berlangsung lama. Biasanya penderita tidak menyadari dirinya terkena sinusitis, karena gejalanya sering didahului pilek yang berlangsung lama sehingga dianggap biasa.
2. Bila sudah terjadi penumpukan cairan dalam rongga maka kepala menjadi sakit, terutama jika sedang menunduk.
3. Kadang pendengaran berkurang dan badan meriang, sementara ingus terus mengalir.
4. Kehilangan nafsu makan dan indera penciuman menjadi lemah.
Gejala khas dari kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun pada pagi hari. Sinusitis akut dan kronis memiliki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan pembengkakan pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang terkena:
  • Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi dan sakit kepala. Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi.
  • Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila pinggiran hidung di tekan, berkurangnya indera penciuman dan hidung tersumbat.
  • Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit telinga dan sakit leher.
Gejala lainnya adalah:
  • tidak enak badan
  • demam
  • letih, lesu
  • batuk, yang mungkin semakin memburuk pada malam hari
  • hidung meler atau hidung tersumbat
Demam dan menggigil menunjukkan bahwa infeksi telah menyebar ke luar sinus. Selaput lendir hidung tampak merah dan membengkak, dari hidung mungkin keluar nanah berwarna kuning atau hijau.

Diagnosa
Sinusitis sebagian besar sudah dapat didiagnosa hanya berdasarkan pada riwayat keluhan pasien serta pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter. Hal ini juga disebabkan karena pemeriksaan menggunakan CT Scan dan MRI yang walaupun memberikan hasil lebih akurat namun biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan adanya kemerahan dan pembengkakan pada rongga hidung, ingus yang mirip nanah, serta pembengkakan disekitar mata dan dahi. Pemeriksaan menggunakan CT Scan dan MRI baru diperlukan bila sinusitis gagal disembuhkan dengan pengobatan awal. Rhinoskopi, sebuah cara untuk melihat langsung ke rongga hidung, diperlukan guna melihat lokasi sumbatan ostia. Terkadang diperlukan penyedotan cairan sinus dengan menggunakan jarum suntik untuk dilakukan pemeriksaan kuman. Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan jenis infeksi yang terjadi.
Untuk sinusitis yang disebabkan oleh karena virus maka tidak diperlukan pemberian antibiotika. Obat yang biasa diberikan untuk sinusitis virus adalah penghilang rasa nyeri seperti parasetamol dan dekongestan. Curiga telah terjadi sinusitis infeksi oleh bakteri bila terdapat gejala nyeri pada wajah, ingus yang bernanah, dan gejala yang timbul lebih dari seminggu. Sinusitis infeksi bakteri umumnya diobati dengan menggunakan antibiotika. Pemilihan antibiotika berdasarkan jenis bakteri yang paling sering menyerang sinus karena untuk mendapatkan antibiotika yang benar benar pas harus menunggu hasil dari biakan kuman yang memakan waktu lama. Lima jenis bakteri yang paling sering menginfeksi sinus adalah Streptococcus, pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pyogenes.
Antibiotika yang dipilih harus dapat membunuh kelima jenis kuman ini. Beberapa pilihan antiobiotika antara lain amoxicillin, cefaclor, azithromycin, dan cotrimoxazole. Jika tidak terdapat perbaikan dalam lima hari maka perlu dipertimbangkan untuk memberikan amoxicillin plus asam klavulanat. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal 10 sampai 14 hari. Pemberian dekongestan dan mukolitik dapat membantu untuk melancarkan drainase cairan mukus. Pada kasus kasus yang khronis, dapat dipertimbangkan melakukan drainase cairan mukus dengan cara pembedahan.
PENGOBATAN
Perawatan pasca tindakan :
- beri antrostomi dilakukan pada kedua belah sinus maksila, maka kedua belah hidung tersumbat oleh tampon. Olehkarena itu pasien harus bernafas melalui mulut, dan makanan yang diberikan harus lunak.
- tampon diangkat pada hari ketiga, setelah itu, bila tidak terdapat perdarahan, pasien boleh pulang.
Perawatan pasca bedah :
- beri kompres es di pipi, untuk mencegah pembengkakan di pipi pasca-bedah.
- perhatikan keadaan umum : nadi, tensi,suhu
- perhatikan apakah ada perdarahan mengalir ke hidung atau melalui mulut. Apabila terdapat perdarahan, maka dokter harus diberitahu.
- makanan lunak
-tampon dicabut pada hari ketiga.
Untuk sinusitis yang disebabkan oleh karena virus maka tidak diperlukan pemberian antibiotika. Obat yang biasa diberikan untuk sinusitis virus adalah penghilang rasa nyeri seperti parasetamol dan dekongestan. Curiga telah terjadi sinusitis infeksi oleh bakteri bila terdapat gejala nyeri pada wajah, ingus yang bernanah, dan gejala yang timbul lebih dari seminggu. Sinusitis infeksi bakteri umumnya diobati dengan menggunakan antibiotika. Pemilihan antibiotika berdasarkan jenis bakteri yang paling sering menyerang sinus karena untuk mendapatkan antibiotika yang benar benar pas harus menunggu hasil dari biakan kuman yang memakan waktu lama. Lima jenis bakteri yang paling sering menginfeksi sinus adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pyogenes. Antibiotika yang dipilih harus dapat membunuh kelima jenis kuman ini. Beberapa pilihan antiobiotika antara lain amoxicillin, cefaclor, azithromycin, dan cotrimoxazole. Jika tidak terdapat perbaikan dalam lima hari maka perlu dipertimbangkan untuk memberikan amoxicillin plus asam klavulanat. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal 10 sampai 14 hari. Pemberian dekongestan dan mukolitik dapat membantu untuk melancarkan drainase cairan mukus. Pada kasus kasus yang khronis, dapat dipertimbangkan melakukan drainase cairan mukus dengan cara pembedahan.
Berikut adalah tips untuk penanganan sinusitis :
1. Pemberian antibiotik, untuk mengobati infeksi yang terjadi.
2. Kompres hangat dengan memakai handuk untuk mengurangi nyeri di sekitar wajah.
3. Tinggal di lingkungan udara yang bersih.
4. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Banyaklah mengkonsumsi vitamin C apabila dirasa tubuh kurang fit dan rajinlah berolahraga untuk mempertebal daya tahan tubuh kita. Apabila terkena penyakit pilek yang membandel atau serangan flu lebih dari seminggu.
5. Manfaatkan dengan air panas. Saat mandi, gunakan shower air hangat, usap dahi, hidung dan dagu dengan waslap yang dibasahi air panas, agar lubang hidung terbuka lebar. Rongga hidung yang kering lebih mudah terinfeksi daripada yang basah.
6. Perbanyak memakan makanan yang pedas, umumnya makanan berbumbu pedas dapat memperlebar lubang hidung.
7. Usahakan hidung selalu dalam kondisi lembab, terutama tatkala cuaca di luar panas terik.
8. Perbaiki daya tahan tubuh. Caranya, istirahat yang cukup dan makan panganan yang penuh gizi. kurangi merokok atau kalau bisa berhenti merokok.
Tanaman herbal yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi sinusitis adalah sambiloto yang berkhasiat meningkatkan imunitas dan meluruhkan dahak.

Komplikasi
Komplikasi yang serius jarang terjadi, namun kemungkinan yang paling gawat adalah penyebaran infeksi ke otak yang dapat membahayakan kehidupan.









RHINITIS ALERGIKA
Rhinitis alergika (allergic rhinitis) terjadi karena sistem kekebalan tubuh kita bereaksi berlebihan terhadap partikel-partikel yang ada di udara yang kita hirup. Sistem kekebalan tubuh kita menyerang partikel-partikel itu, menyebabkan gejala-gejala seperti bersin-bersin dan hidung meler. Partikel-partikel itu disebut alergen yang artinya partikel-partikel itu dapat menyebabkan suatu reaksi alergi.
Rinitis Alergika secara klinis didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung dimana terjadi suatu proses inflamasi pada mukosa nasal. . Inflamasi ini bisa bersifat akut atau kronik dan mengarah kepada sekumpulan gejala seperti bersin-bersin, gatal di hidung, rhinorrea, berkurangnya penciuman, dan hidung tersumbat.
Rinitis alergika merupakan penyakit saluran nafas yang sering dijumpai pada anak, disamping asma dan sinusitis. Sekitar 40% anak pernah mengalami rinitis alergika sampai usianya mencapai 6 tahun. Rinitis alergika merupakan penyakit yang didasari oleh proses inflamasi. Terdapat hubungan yang erat antara saluran nafas bagian atas dan bawah.
Hubungan antara rinitis-sinusitis-asma telah lama diketahui sehingga dalam penanganannya pun selalu dikaitkan antara ketiganya. Pada pasien asma sering sekali timbul gejala rinitis seperti pilek (keluarnya cairan dari hidung), gatal, kadang-kadang tersumbat, dan terasa panas pada hidung. mempunyai rhinitis alergika, biasanyaa mempunyai gejala selama beberapa tahun (kronik). mungkin mempunyai gejala sepanjang tahun, atau hanya pada saat-saat tertentu saja. Dengan berjalannya waktu, alergen mungkin menjadi tidak begitu mempengaruhi dan gejala-gejala mungkin menjadi tidak separah sebelumnya. juga bisa mengalami komplikasi seperti sinusitis ataupun infeksi telinga.



Penyebab
Rhinitis alergika (allergic rhinitis) terjadi karena sistem kekebalan tubuh kita bereaksi berlebihan terhadap partikel-partikel yang ada di udara yang kita hirup. Sistem kekebalan tubuh kita menyerang partikel-partikel itu, menyebabkan gejala-gejala seperti bersin-bersin dan hidung meler. Partikel-partikel itu disebut alergen yang artinya partikel-partikel itu dapat menyebabkan suatu reaksi alergi.alergem itu berupa partikel debu, bulu binatang
Gejala
  • Bersin berulangkali, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (Reaksi mukosa hidung akan menimbulkan gejala obstruksi aliran udara, sekresi, bersin, dan rasa gatal )
  • Hidung meler ( karena Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan )
  • postnasal drip ( Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus )
  • Mata gatal, berair
  • Telinga, hidung, dan tenggorokan gatal
  • Terjadi sumbatan hidung ( Bila tidak terdapat deformitas tulang hidung maka sumbatan hidung disebabkan oleh pembengkakan mukosa dan sekret yang kental )
  • Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba eustakius di telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak
·         kesulitan bernafas saat tidur. Interaksi dari kondisi pernafasan ini menunjukkan suatu pola yang sama akan adanya inflamasi pada saluran pernafasan atas dan bawah.
·         Pasien dengan alergi sering mengeluhkan gejala seperti lemah, letih, sukar berkonsentrasi, berkurangnya kewaspadaan serta berkurangnya aktivitas psikomotor.
·         Gejala bernapas melalui mulut sering terjadi pada malam hari yang dapat menimbulkan gejala tenggorokan kering, mengorok, gangguan tidur, serta gejala kelelahan pada siang hari.
KLASIFIKASI
A.    Pembagian rinitis alergika sebelum ini menggunakan kriteria waktu pajanan
·         rinitis musiman (seasonal allergic rhinitis)
yang berarti rhinitis alergika yang dipicu oleh peningkatan jumlah antigen akibat perubahan musim, seperti tepung sari dan debu diluar rumah.
·         sepanjang tahun (perenial allergic rhinitis)
yang berarti rhinitis alergika yang terjadi sepanjang tahun, disebabkan oleh antigen yang menetap seperti bulu hewan, kutu debu, kecoak dan debu dari dalam rumah
B.     Menurut saat timbulnya, maka rinitis alergik dapat dibagi menjadi rinitis alergik intermiten (seasonal-acute-occasional allergic rhinitis) dan rinitis alergik persisten (perennial-chronic-long duration rhinitis).
·         Rinitis alergik intermiten
Rinitis alergik intermiten mempunyai gejala yang hilang timbul, yang hanya berlangsung selama kurang dari 4 hari dalam seminggu atau kurang dari empat minggu. Rinitis alergik musiman yang sering juga disebut hay fever disebabkan oleh alergi terhadap serbuk bunga (pollen). Penyakit ini sering terjadi yaitu pada sekitar 10% populasi, biasanya mulai masa anak dan paling sering pada dewasa muda yang meningkat sesuai bertambahnya umur dan menjadi masalah pada usia tua. Gejala berupa rasa gatal pada mata, hidung dan tenggorokan disertai bersin berulang, ingus encer dan hidung tersumbat. Gejala asma dapat terjadi pada puncak musim. Gejala ini akan memburuk pada keadaan udara kering, sinar matahari, serta di daerah pedesaan
·         Rinitis alergik persisten
Rinitis alergik persisten mempunyai gejala yang berlangsung lebih dari 4 hari dalam seminggu dan lebih dari 4 minggu. Gejala rinitis alergik ini dapat terjadi sepanjang tahun, penyebabnya terkadang sama dengan rinitis non alergik. Gejalanya sering timbul, akan tetapi hanya sekitar 2-4 % populasi yang mengalami gejala yang berarti. Rinitis alergik biasanya mulai timbul pada masa anak, sedangkan rinitis non alergik pada usia dewasa. Alergi terhadap tungau debu rumah merupakan penyebab yang penting, sedangkan jamur sering pada pasien yang disertai gejala asma dan kadang alergi terhadap bulu binatang. Alergen makanan juga dapat menimbulkan rinitis tetapi masih merupakan kontroversi. Pada orang dewasa sebagian besar tidak diketahui sebabnya.
Gejala rinitis persisten hampir sama dengan gejala hay fever tetapi gejala gatal kurang, yang mencolok adalah gejala hidung tersumbat. Semua penderita dengan gejala menahun dapat bereaksi terhadap stimulus nonspesifik dan iritan.

C.     klasifikasi rinitis alergik yang baru menurut ARIA  (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma )  sesuai dengan derajat beratnya penyakit.
·         rhinitis alergika ringan intermitten
rhinitis alergica ringan ditandai dengan gejala yang muncul sesekali. pasien dapat melakukan aktivitas sehari-harinya (seperti bersekolah, bekerja, berolahraga) dengan baik, tidur tidak terganggu, dan tidak ada gejala yang berat.
·         rhinitis alergika sedang berat intermitten
ditandai dengan gejala yang mengganggu kinerja harian, tidur, atau kualitas kehidupan.rhinitis alergika intermiten ditandai dengan gejala yang berlangsung lebih kurang 4 hari dalam seminggu dan lebih dari 4 minggu dalam setahun. Tingkat keparahannya tergantung pada seberapa besar gejala mengganggu kinerja harian, tidur atau kualitas hidup.
aktivitas sehari-hari pasien tidak dapat berjalan dengan baik, tidur terganggu, dan terdapat gejala yang berat.
·         rhinitis alergika ringan persisten
·         rhinitis alergika sedang berat persisten

Diagnosa
Dokter anda biasanya mendiagnosa rhinitis alergika dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang anda derita, aktivitas anda, dan kehidupan rumah , dan dengan memeriksa pasien. Jika ini semua tidak dapat memastikan bahwa  menderita rhinitis alergika, maka mungkin dokter  akan menyarankan  untuk melakukan:
  • Skin test, dimana dokter  akan menaruh sejumlah kecil cairan alergen tertentu ke kulit anda untuk melihat apakah cairan tersebut menimbulkan reaksi alergi pada pasien.
  • Tes laboratorium untuk melihat apakah ada zat-zat tertentu dalam darah yang menunjukkan bahwa  menderita rhinitis alergika.
Perjalanan alamiah rinitis dan asma
·         Masih sedikitpenelitian yang mengemukakan tentang perjalanan alamiah rinitis alergika. Hagy dan Sittipane meneliti pada 903 anak balita yang diikuti selama 23 tahun. Setelah 23 tahun didapatkan hasil bahwa 10,6% menjadi asma dan 43% menjadi rinitis alergika. Dari penelitian tersebut disimpulkan pula bahwa anak dengan rinitis alergika mempunyai risiko 3 kalilebih tinggi dibanding non rinitis untuk menjadi asma. Peneliti lain (Luoma)meneliti pada 154 anak rinitis alergika berusia 3-17 tahun dan diikuti selama 10 tahun. Hasil penelitiannya adalah 15% bebas tanpa rinitis, 50 tetap, dan 20% berkembang menjadi asma. Magnan mendapatkan hasil pada anak rinitis alergi yang mempunyai riwayat asma pada keluarganya 9,8 kali lebih tinggi dibanding pada anak rinitis tanpa riwayat asma pada keluarga.

PENGOBATAN
Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin. Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnya pseudoefedrin atau fenilpropanolamin) untuk melegakan hidung tersumbat. Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara ketat.
Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang. Jika pemberian antihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid; tidak dianjurkan untuk memberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut). Obat tetes atau obat semprot hidung yang mengandung dekongestan dan bisa diperoleh tanpa resep dokter, sebaiknya digunakan tidak terlalu lama karena bisa memperburuk atau memperpanjang peradangan hidung. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk membuang polip atau pengobatan terhadap infeksi sinus.
FARMAKOTERAPI
·         Penggunaan obat-obat topikal dan sistemik untuk mengobati rhinitis adalah dasar dari pengobatan penyakit ini.
·         ANTIHISTAMIN
·         Pengobatan utama untuk ehinitis alergika selama lebih dari setengah abad adalah penggunaan antagonis H1 reseptor oral atau lebih dikenal dengan anti histamine. Antihistamin adalah antagonis yag kompetitif dari H1 yang bisa dijumpai pada mukosa nasal. Antihistamin mengikat reseptor H1 sehingga mencegah histamine terikat dengan receptor atau pada antihistamin generasi terbaru, mengubah struktur dari reseptor dan menonaktifkannya.
·         Antihistamin sudah digunakan sejak tahun 1940an. Antihistamin generasi pertama memiliki afinitas yang buruk dalam mengikat reseptor H1 dan memiliki index terapi yang rendah. Sehingga sering digunakan dalam dosis yang tinggi untuk memperoleh hasil yang maksimal. Obat ini, seperti dipenhidramin, chlorpeniramin, tripolidin, dan promethazin kesemuanya memiliki efek pada reseptor, tetapi efek ini tidaklah spesifik. Obat-obat ini memiliki sifat lipofilik sehingga dengan gampang menembus sawar darah otak dan mempengaruhi reseptor sentral dari H1 sehingga menyebabkan sedasi serta pengurangan kognitif dan psikomotor. Selain dari efek antihistaminnya, obat-obat ini juga memiliki efek kolinergik dan muskarinik. Akibat dari faktor yang tidak selektif inilah, antikolinergik memiliki efek mulut kering, pandangan kabur dan meningkatnya frekwensi mucous.
·         Selama lebih dari dua dekade, antihistamin baru sudah semakin dikembangkan sehingga berdampak lebih poten, lebih selektif pada reseptor H1, tidak menembus sawar otak yang mengakibatkan berkurangnya efek sedasi. Antihistamin generasi baru ini adalah astemizole, terfenadine, loratadin, fexofenadin, cetirizine dan desloratadin. Dua obat yang disebutkan pertama kali diketahui memiliki interaksi dengan sistem sitokrom P450 di hati, yang bisa menghasilkan toksis cardiac jika digunakan bersamaan dengan obat yang dimetabolisme dengan cara yang sama. Toksisitas ini membuat ditariknya terfenadin dan astemazol dari pasaran amerika pada tahun 1990an.
·         Semua sisa antihistamin generasi kedua lainnya memiliki efektifitas yang baik untuk terapi rhinitis alergika. Semuanya bersifat non sedasi, atau pada cetirizin bersifat sedasi ringan, tidak ada satupun yang berinteraksi dengan sitokrom 450. semuanya amat efektif untuk mengurangi gejala iritatif pada rhinitis alergika, termasuk bersin dan gatal dan juga berefek dalam mengatasi rhinorrea. Antihistamin sebagai agen tunggal memiliki efek yang kecil untuk menangani hidung tersumbat, sehingga harus dikombinasikan dengan obat-obatan lain jika keluhan utama yang dirasakan adalah hidung tersumbat. Antihistamin tidak cocok digunakan untuk pasien rhinitis vasomotor dan sering diresepkan dengan tidak sesuai pada pasien dengan rhinitis non alergika. Karena rhinitis non alergika adalah suatu penyakit yang tidak diperantarai histamine, maka pemberian antihistamin kurang bermanfaat.
·         Salah satu antihistamin topical, azelastin, biasanya tersedia untuk terapi rhinitis di amerika serikat. Obat ini bisa digunakan baik untuk pengobatan rhinitis alergika maupun rhinitis vasomotor dan ditenggarai memiliki efek pada kongesti hidung.obat ini memiliki onset kerja yang cepat dan kinerja yang baik. Salah satu kekurangannya hanya efek sedasinya, walaupun digunakan secara topical dan juga pada rasa tidak nyaman pada sebagian kecil orang.
·         Panduan terbaru dari penatalaksanaan rhinitis alergika tidak merekomendasikan penggunaan antihistamin yang bersifat sedative. (25). Dalam keadaan tertentu dimana seorang dokter terpaksa menggunakan antihistamin golongan pertama ini, pasien harus diperingatkan akan potensi sedasi dan efek samping lainnya. Catatan medis yang ditujukan pada pasien yang mengkonsumsi obat-obat ini agar tidak mengendarai kendaraan bermotor atau mengoperasikan mesin amat diperlukan.
·         DEKONGESTAN
Karena hidung tersumbat adalah keluhan utama pasien dengan rhinitis alergika dan juga sering dijumpai pada pasien rhinitis non alergik, vasokonstriktor oral maupun topical sering diresepkan oleh dokter untuk mengurangi gejala hidung tersumbatnya. Dekongestan adalah golongan agonis reseptor α-adrenergik yang bisa menyebabkan kontraksi dari vena pada jaringan hidung. Dekongestan efektif pada pasien dengan hidung tersumbat dan memiliki toleransi yang baik.
Dekongestan tersedia dalam kemasan oral untuk efek sistemik maupun dalam kemasan topikal untuk memberikan efek langsung pada mukosa nasal. Penggunaan yang paling sering dari preparat nasal adalah phenileprin dan oksimetazolin., yang bisa mengurangi kongesti hidung, tetapi memiliki efek rebound kongesti terutama jika digunakan dalam waktu yang lama.penggunaan obat-obatan ini disarankan untuk terapi antara 3 sampai 5 hari. Setelah periode itu, mukosa akan resisten terhadap efek dekongestan sehingga memerlukan pengobatan yang lebih sering. Walaupun dekongestan nasal ini efisien, resiko ketergantungan dan takifilaksis membuat pemakaiannya harus dibatasi.
Dekongestan oral juga sering digunakan untuk mengatasi hidung tersumbat. Obat-obatan yang sering digunakan adalah pseudoefedrin, sebuah agen α-adrenergik sistemik yang poten. Obat lain yang popular digunakan adalah phenilpropanolamin (PPA) yang kemudian ditarik dari pasarn amerika serikat karena membuat insiden stroke hemorraghik menjadi meningkat pada wanita muda. Obat-obatan ini memiliki efisiensi yang baik dalam mengurangi obstruksi nasal dan berpotensi kecil untuk terjadinya rebound pada rhinitis dan kongesti. Walaupun penggunaan oral dekongestan dapat mengurangi gejala, namun lingkup kerjanya yang luas membuatnya memiliki banyak efek samping yang harus diawasi. Efek samping yang diketahui antara lain, efek pada sistem saraf pusat seperti insomnia, cemas, gugup, gampang marah, tremor, kurang istirahat dan sakit kepala. Efek samping sistemik yang ditimbulkan antara lain adalah mual, muntah, palpitasi, aritmia, hipertensi, angina dan retensi urin. Efek tersebut tergantung pada dosis yang digunakan. Selain itu, oral dekongestan bisa meningkatkan tekanan intraocular dan mencetuskan glaucoma.pasien dengan penyakit jantung, hipertensi dan glaucoma memiliki resiko yang tinggi untuk penggunaan oral dekongestan sehingga harus dihindari penggunaannya. Bahkan pada pasien yang sehat sekalipun, oral dekongestan harus digunakan dengan dosis terkecil yang mampu untuk mengurangi gejala dan dalam tempo waktu sesingkat mungkin.
·         STABILISATOR SEL MAST
Stabilisator sel mast bisa digunakan untuk mengobati rhinitis alergika. Preparat cromolyn-sodium tersedia dipasaran sebagai terapi dari rhinitis alergika. Obat ini menstabilkan membrane dari sel mast di mukosa nasal. Mengurangi kemampuan sel itu untuk melakukan degranulasi dan mencegah terbentuknya histamine dimukosa nasal. Untuk memaksimalkan kinerja dari obat ini, maka harus digunakan sebelum terpapar oleh allergen, karena obat ini tidak efektif jika digunakan ketika sel mast sudah ber-degranulasi. Selain itu, obat ini memiliki efek medikasi yang ringan disertai masa paruh yang pendek ketika berada dijaringan. Obat ini hanya efektif untuk rhinitis alergika dan tidak berguna untuk penyakit non alergik.
·         KORTIKOSTEROID
Preparat steroid efektif untuk semua bentuk rhinitis, baik yang alergik maupun yang non alergik. Preparat ini tersedia dalam bentuk oral maupun parenteral dan juga dalam sediaan spray intranasal. Kortikosteroid bekerja sangat baik dalam mengurangi gejala rhinitis jika digunakan secara sistemik tetapi memiliki efek samping yang cukup signifikan. Injeksi berkala sudah diguakan sejak dulu namun tidak direkomendasikan untuk saat ini berdasarkan pada guideline terbaru managemen rhinitis alergika.(17). Kortikosteroid oral bisa digunakan untuk jangka waktu yang pendek.
Kortikosteroid topical menjadi pengobatan utama pada pasien dengan rhinitis alergika dan rhinitis non alergika dan banyak analisa mengatakan bahwa kegunaannya lebih efektif daripada antihistamin dalam managemen rhinitis alergika.(26). Agen topical ini diperkenalkan pada tahun 1970an dan menjadi alternatif pengganti kortikosteroid sistemik baik untuk tatalaksana rhinitis alergika maupun non alergika. Kortikosteroid nasal topical dikenal mampu untuk menurunkan neutrofil dan kemotaksis eoshinofil pada hidung dan juga bisa menurunkan edema intraseluler. Ia juga mengurangi berbagai mediator inflamasi lainnya termasuk interleukin (IL)-6, IL-8, granulocyte-macrofhage colony stimulating factor (GM-CSF) dan IL-4 serta IL-5.
Dalam satu decade terakhir, kortikosteroid topical nasal sudah digunakan secara luas dan sudah menunjukkan tingkat keamanan yang tinggi.Ia memiliki efek samping yang kecil baik local maupun sistemik dan pada kasus mometasone maupun fluticason, keduanya tidak memiliki efek samping sistemik seperti supresi pertumbuhan yang diukur dengan stadiometri selama setahun pada anak-anak pre pubertas. Kedua preparat terbaru ini mengurangi absorbsi sistemik dan bioavaibilitas dan karena itulah ia kurang memiliki efek sistemik.
Steroid nasal topical menunjukkan tingkat keamanan dan keefektifitasan pada terapi rhinitis alergika pada anak-anak yang berusia dua tahun keatas. Obat ini bisa digunakan untuk terapi gejala dan juga sekaligus profilaksis pada pasien dengan rhinitis alergi musiman. Efek terapi jangka panjang dengan kortikosteroid intranasal belum pernah dilaporkan dalam penelitian prospektif. Karena itu diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat apakah ada efek samping dari penggunaan jangka panjang dari obat-obatan ini.
Kortikosteroid topical dan sistemik juga berguna untuk terapi rhinitis non alergik selain dari kegunaannya pada rhinitis alergik. Untuk terapi rhinitis medikamentosa, penggunaan oral kortikosteroid jangka pendek memegang peranan penting untuk menghentikan pasien dari ketergantungan dekongestan topikalnya. Kostikosteroid nasal juga berguna dalam tatalaksana rhinitis vasomotor khususnya jika digunakan bersamaan dengan spray antikolinergik topical.
·         LEUKOTRIENE MODIFIERS
Kelompok pengobatan terbaru dari rhinitis alergika adalah Leukotriene Receptors antagonist (LTRAs). Satu-satunya obat LTRA yang teruji di amerika serikat untuk terapi rhinitis alergika adalah montelukast. Montelukast diketahui bermanfaat untuk gejala nasal dan non nasal dari rhinitis alergika. Karena leukotriene adalah reseptor yang sangat penting untuk fase akhir respon alergik, sehingga secara logis dapat disimpulkan gangguan pada reseptor leukotriene dapat bermanfaat dalam tatalaksana rhinitis alergika. LTRA menjadi jaminan untuk pengobatan rhinitis alergika serta penyakit nasal dan sinus lainnya dimasa yang akan datang. Tidak ada kasus yang melaporkan adanya kegunaan LTRA pada pasien dengan rhinitis non alergik.
·         ANTIKOLINERGIK SPRAY TOPIKAL
Salah satu antikolinergik spray nasal, ipratropium bromide tersedia untuk mengatasi keluhan rhinitis alergika. Ia bekerja dengan cara memblok saraf para simpatis yang mempersarafi mukosa nasal dan memiliki efek klinis utama mengurangi keluhan rhinorrea. Ia memiliki efek yang kecil terhadap gejala nasal dan non nasal tetapi bermanfaat untuk mengatasi rhinorrea yang disebabkan oleh infeksi virus.
·         ANTI IgE
Pengembangan farmakoterapi menunjukkan adanya manfaat dari penggunaan monoclonal anti IgE, omalizumab, pada asthma dan rhinitis alergika. Obat ini digunakan percutaneus mengurangi jumlah IgE secara dramatis, mengurangi jumlah IgE yang bisa memicu terjadinya reaksi alergi. Omalizumab terbukti bisa mengobati asthma yang parah dan terbukti bisa memperbaiki kualitas hidup pasien ini. Studi menunjukkan manfaatnya pada rhinitis alergika, namun harganya yang tinggi dan penggunaan yang melalui parenteral membuat penggunaannya menjadi terbatas untuk mengobati rhinitis alergika.
·         IMMUNOTHERAPI
Immunoterapi melibatkan sejumlah kecil antigen yang sensitif terhadap pasien tersebut untuk kemudian ditingkatkan dosisnya sehingga pasien ini ter-desensitivitaskan oleh antigen ini. Ini adalah strategi pengobatan yang ketiga untuk tatalaksana pasien dengan rhinitis alergika jika terapi dengan medikamentosa dan pencegahan allergen memberikan respon yang negative. Pada immunoterapi tradisional, sejumlah kecil antigen yang perlahan ditambahkan dosisnya disuntikkan secara sub kutaneus untuk mengurangi respon pasien terhadap antigen ini. Keamanan dan efektifitas dari immunoterapi dari rhinitis alergika sudah diketahui dengan baik, walaupun terdapat sedikit resiko lokal dan sistemik saat dilakukan immunotherapy subkutaneus.
Mekanisme khusus yang terjadi saat secara fisiologi serta efektifitas dari immunoterapi didiskusikan secara mendalam pada bab alergi dan immunologi. Immunoterapi mengurangi respon pasien terhadap pemberian vaksin. Keuntungan dari immunoterapi tidaklah didapat dalam waktu singkat melainkan dalam beberapa bulan pertama. Untuk mendapat manfaat yang optimal dari immunoterapi, pengobatan selama 3-5 tahun direkomendasikan. Walaupun immunoterapi dilakukan lewat jalur subkutan, terdapat peningkatan angka kejadian keamanan maupun efektifitasnya secara sublingual (28) karena immunoterapi terlibat dalam memodulasi respon imun, maka ia tidak berguna pada pasien dengan rhinitis non alergik.
·         PEMBEDAHAN
Walaupun pembedahan bukanlah tindakan utama dalam penatalaksanaan rhinitis. Tetapi pembedahan bisa memiliki efek tambahan ada pasien dengan hidung tersumbat. Pendekatan bedah untuk konkha inferior bisa mengurangi tahanan hidung dan meningkatkan aliran udara. Tetapi reseksi yang agresif malah bisa mengarah kepada keringnya hidung dan persepsi blok nasal. Pembedahan konkha yang konservatif dan sesuai, dirasa mampu untuk mengurangi gejala baik untuk rhinitis alergika maupun yang non alergika.
Cara menghindari alergen out door
Beberapa langkah/tips berikut ini dapat membantu anda bahkan jika anda tidak tahu jenis pollen apa yang membuat anda alergi. Jika anda tahu tipe pollen apa yang membuat anda alergi itu lebih bagus lagi.
  • Tetaplah berada di dalam ruangan/rumah pada waktu pollen sangat banyak di udara. Umumnya pollen sedikit di udara hanya beberapa saat setelah matahari terbit. Mereka kemudian jumlahnya makin banyak dan paling banyak pada tengah hari dan sepanjang siang. Jumlahnya kemudian berkurang menjelang matahari terbenam.
  • Tutuplah jendela dan pintu, baik pada siang maupun malam hari. Gunakan AC untuk membantu mengurangi jumlah pollen yang masuk ke dalam rumah anda. Jangan gunakan kipas dengan buangan keluar (exhaust fan) karena dapat membawa lebih banyak pollen masuk ke dalam rumah anda.
  • Potonglah rumput di halaman rumah sesering mungkin.
  • Cegah membawa pulang pollen masuk ke rumah setelah anda bepergian:
    # Segeralah mandi dan ganti baju dan celana yang anda pakai di luar.
    # Keringkan pakaian anda dengan mesin pengering, jangan jemur di luar.
  • Berliburlah ke tempat lain pada saat musim pollen sedang berlangsung di tempat anda ke tempat di mana tanaman yang membuat anda alergi tidak tumbuh.
  • Pindah rumah.
Mold dapat menyebabkan alergi yang memburuk dalam cuaca lembab. Mold juga memproduksi spora yang dapat beterbangan di udara luar selama musim panas. Untuk menghindari kontak dengan spora-spora mold:
  • Jangan keluar rumah pada saat hujan atau hari berangin.
  • Hindari aktivitas yang membat anda terpapar dengan mold, seperti berkebun (terutama saat bekerja dengan kompos), memotong rumput.
  • Buanglah jauh-jauh dari rumah anda daun-daun yang berguguran, potongan rumput, dan kompos.
Di daerah yang berudara lembab mold di dalam rumah dapat mencetuskan serangan asthma, rhinitis alergika dan dermatitis alergika.
Beberapa langkah berikut dapat membantu:
  • Bersihkan kamar mandi, bathtubs, shower stalls, shower curtains, dan karet-karet jendela paling sedikit sebulan sekali dengan disinfektan atau cairan pemutih. Gunakan pemutih dengan hati-hati, karena dapat membuat hidung anda teriritasi. Jika hidung anda teriritasi, gejala alergi anda dapat memburuk.
  • Rumah harus ada aliran udara yang baik dan kering.
  • Gunakan exhaust fan di kamar mandi dan dapur.
  • Jangan gunakan karpet.
Oleh karena orang dewasa menghabiskan 1/3 waktu mereka dan anak-anak menghabiskan ½ dari waktu mereka di kamar tidur, maka penting agar tidak ada alergen di kamar tidur. Jangan gunakan kasur, bantal dan guling yang diisi dengan kapuk
KOMPLIKASI 
Ø  Sinusitis kronis (tersering)
Ø  Poliposis nasal
Ø  Sinusitis dengan trias asma (asma, sinusitis dengan poliposis nasal dan sensitive terhadap aspirin)
Ø  Asma
Ø  Obstruksi tuba Eustachian dan efusi telingah bagian tengah
Ø  Hipertyopi tonsil dan adenoid
Ø  Gangguan kognitif


DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar