Total Tayangan Laman

Sabtu, 28 Juli 2012

PROSEDUR PEMASANGAN KATETER


TUGAS IKD 3
PROSEDUR PEMASANGAN KATETER



Disusun Oleh:
FERRY ZULFIANTO
NIM 10321103
II-C

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2011


PROSEDUR PEMASANGAN KATETER
kateterkandungkemih
1.1 Definisi:
Kateterisasi perkemihan adalah tindakan memasukkan selang karet atau plastik,melalui uretra atau kandung kemih.dan dalam kateterisasi ada dua jenis kateterisasi,yaitu menetap dan intermiten,sedangkan alat untuk kateterisasi dinamakan selang kateter,selang kateter adalah alat yang bebentuk pipa yang terbuat dari karet,plastic,metal woven slik dan silikon.yang fungsi dari alat kateter tersebut ialah memasukkan atau mengeluarkan cairan.
Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menyimpan atau menampung air seni yang berubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal.
Pemasangan kateter adalah pemasukan selang yang terbuat dari plastik atau karet melalui uretra menuju kandung kemih (vesika urinaria)
1.2 Tujuan
v  Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih
v  Mendapatkan urine steril untuk specimen
v  Pengkajian residu urine
v  Penatalaksanaan pasien yg di rawat karena trauma medula spinalis,gangguan neuro muscular,atau inkompeten kandung kemih,serta pasca oprasi besar
v  Mengatasi obstruksi aliran urine
v  Mengatasi retensi perkemihan
1.3 INDIKASI
1.  Kateter semnetara.
a. Mengurangi ketidaknyamanan pada distensi vesika urinaria.
b. Pengambilan urine residu setelah pengosongan urinaria.

2. Kateter tetap jangka pendek.
a. Obstruksi saluran kemih (pembesaran kelenjar prostat)
b. Pembedahan untuk memperbaiki organ perkemihan, seperti vesika urinaria, urethra dan organ sekitarnya.
c. Preventif pada obstruksi urethra dari pendarahan.
d. Untuk memantau output urine.
e. Irigasi vesika urinaria.
3. Kateter tetap jangka panjang.
a. Retensi urine pada penyembuhan penyakit ISK/UTI.
b. Skin rash, ulcer dan luka yang iritatif apabila kontak dengan urine.
c. Klien dengan penyakit terminal.

1.4 KONTRA INDIKASI
·       Hematoria (keluarnya darah dari uretra)
1.5 Prosedur   
 A. Persiapan alat
·         Sterill
1.    Kateter yang akan dipasang sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan  satu ( 1 ) buah disiapkan dalam bak steril.
2.    Pinset anatomis 1 buah.
3.    Sarung tangan 1 pasang.
4.    Spuit 10-20 cc 1 buah.
5.    Kain kassa 2 lembar.
6.    Kapas sublimate dalam tempatnya.
7.    Air / aquabidest NaCl 0,9 % secukupnya.
8.    Xylocain jelly 2 % atau sejenisnya.
9.    Slang dan kantong untuk menampung urine.

·         Tidak Steril
1.    Bengkok 1 buah.
2.    Alas bokong 1 buah.
3.    Lampu sorot bila perluSampiran tangan 1 pasang.
4.    Selimut mandi / kain penutup.
5.    Botol kecil steril untuk bahan pemeriksaan steril.
http://1.bp.blogspot.com/_JpQOoZTiF3s/SjOc1nO1MOI/AAAAAAAAAKc/ujvbqTZY5sU/s320/Urine+Catheter.jpeg
Jenis-jenis kateter
1.    Kateter plastik : digunakan sementara karena mudah rusak dan tidak fleksibel.
2.    Kateter latex atau karet : digunakan untuk penggunaan atau pemakaian dalam jangka waktu sedang (kurang dari 3 mingu).
3.    Kateter silicon murni atau teflon : untuk menggunakan jangka waktu lama 2-3 bulan karena bahan lebih lentur pada meatur urethra.
4.    Kateter PVC : sangat mahal untuk penggunaan 4-5 minggu, bahannya lembut tidak panas dan nyaman bagi urethra.
5.    Kateter logam : digunakan untuk pemakaian sementara, biasanya pada pengosongan kandung kemih pada ibu yg melahirkan.

Ukuran kateter
1. Anak          : 8-10 french (Fr)
2. Wanita       : 14-16 Fr
3. Laki-laki    : 16-18 Fr
B.Obat
1.    Aquadest
2.    Bethadine
3.    Alcohol 70%
C.Persiapan perawat/petugas medis
1.      Mencuci tangan meliputi :
·      Melepaskan semua benda yang ada di tangan
·      Menggunakan sabun
·      Lama mencuci tangan 30 menit
·      Membilas dengan air bersih
·      Mengeringkan dengan handuk / lap kering
·      Dilakukan selama dan sesudah melakukan tindakan kateterisasi urine
2.      Memakai sarung tangan
3.      Menjelaskan prosedur tindakan kepada klien.
4.      Penetahuan dasar tentang anatomi dan fisiologi dan sterilitas mutlak dibutuhkan dalam rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi nosokomial
5.      Cukup keterampilan dan berpengalaman untuk tindakan yang dimaksud
6.      Usahakan jangan sampai menyinggung perasaan pasien,melakukan tindakan harus sopan,perlahan-lahan dan hati-hati,usahakan melakukan komunikasi terapeutik

D.Persiapan pasien
Pasien telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang akan dilakukan, Posisi yang biasa dilakukan adalah dorsal recumbent,berbaring di tempat tidur atau diatas meja perawatan khususnya bagi wanita kurang memberikan fasa nyaman karena panggul tidak ditopang sehingga untuk melihat meatus urethra menjadi sangat sulit. Posisi sims / lateral dapat dipergunakan sebagai posisi berbaring / miring sama baiknya tergantung posisi mana yang dapat memberikan prasaan nyaman bagi klien dan perawat saat melakukan tindakan kateterisasi urine.
E.Penatalaksanana
Persiapan ruangan dan alat
v  Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan visualisasi yang baik
v  Siapkan deppres dan cucing,tuangkan bethadine secukupnya
v  Kenakan hendscoen steril dan pasang duk lubang pada genetalia penderita
v  Mengambil deppres dengan pinset dan mencelupkan pada larutan bethadine
v  Melakukan disenfeksi sebagai berikut:




http://bp3.blogger.com/_slaDH4_nRyc/R5csacTFXjI/AAAAAAAAAGA/-lHyclgdf4E/s400/pemberian+jelly.JPG
Pada pasien laki-laki:
Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh,fungsinya untuk meluruskan dengan uretra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan.desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal,diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alcohol,pada saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedangkan tangan kanan memegang pinset dan dipertahankan tetap steril.
Pada pasien wanita:
Jari tanagan kiri membuka labia minora,disenfeksi dimulai dari atas (klitoris),meatus lalu kearah bawah menuju rectum,hal ini diulang tiga kali,deppres terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat klitoris untuk mempertahankan penampakan meatus uretra.
·         Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata.
Untuk laki-laki:10 cm pengolesan jelly nya gunakkan jumlah yang banyak agar kateter mudah masuk karena uretra berbelit-belit.
Untuk wanita :4cm
·         Masukkan kateter kedalam meatus,besamaan dengan itu penderita diminta untuk menarik napas dalam-dalam(respirasi)
Untuk pasien laki-laki :tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh pasien sambil membuka orificum uretra externa,tangan kanan memegang kateter dan memasukkanya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan pasien menarik napas dalam,kaji kelancaran pemasukkan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi,jika masih ada hambatan kateterisasi di hentikan.masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5-7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm
Untuk pasien wanita :Jari tangan kiri membuka labia minora sedangkan tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai pasien menarik napas dalam,kaji kelancaran pemasukkan kateter,jika ada hambatan kateterisasi di hentikan,menaruh nierbecken dibawah pangkal kateter sebelum urine keluar,masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18-23 cm dan selanjutnya di masukkan lagi +/- 3cm.
·         Mengambil specimen urine kalau perlu
·         Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai
·         Memfiksasi kateter :
Untuk pasien laki-laki :kateter difiksasi dengan plester pada abdomen
Untuk pasien wanita : kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha
·         Menempatkan urobag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih
·         Melaporkan penatalaksanaan dan hasil tertulis pada setatus pasien yang meliputi:
1.    Hari,tanggal,dan jam pemasangan kateter
2.    Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
3.    Jumlah,warna,bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
4.    Nama terang dan tanda tangan pemasang baik perawat,atau petugas medis lainya.
F.Hal-hal yang perlu diperhatikan ;
1.    Menjaga privasi klien
2.    Alat-alat harus steril, dan bekerja harus memperhatikan tekhnik septic dan antiseptic
3.    Keteter dimasukkan secara perlahan dan hati-hati, jagan sampai salah masuk dan menyebabkan rasa sakit pada klien
4.    Jangan mendorong paksa kateter bila terjadi tahanan
5.    Ingatkan klien agar tidak menarik kateter.
G.Perawatan kateter urine selama terpasang kateter
Perawatan kateter urine sangat penting dilakukan pada klien dengan tujuan untuk mengurangi dampak negatif dari pemasangan kateterisasi urine seperti infeksi dan radang pada saluran kemih, serta dampak lain yang mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Perawatan yang dilakukan meliputi :
1.      menjaga kebersihan kateter dan alat vital kelamin,
2.      menjaga kantong penampumg urine dengan tidak meletakan lebih tinggi dari buli-buli, agar tidak terjadi aliran balik urine ke buli-buli dan tidak sering menimbulkan saluran penampung karena mempermudah masuknya kuman serta mengganti kateter dalam jangka waktu 7-12 hari.
Semakin jarang kateter diganti, resiko infeksi makin tinggi, penggantian kateter urine tergantung dari bahan kateter urine tersebut sebagai contoh kateter urine dengan bahan latteks silicon paling lama dipakai 10 hari, sedang bahan silicon dapat dipakai selama 12 hari. Pada tahap pengangkatan kateterisasi urine perlu diperhatikan agar balon kateter urine telah kempis. Selain itu menganjurkan klien menarik nafas untuk mengurangi ketegangan otot sekitar saluran kemih sehingga kateterisasi urine dapat diangkat tanpa menyebabkan trauma berlebihan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar