Total Tayangan Halaman

Jumat, 27 Juli 2012

askep osteoarthritis


ASUHAN KEPERAWATAN
OSTEOARTRITIS


STIKES Baru




Oleh
1.      Efi Res Nowati
2.      Jauhari Nurulmundir
3.      Ratna Dasa Astuti
4.      Siti Chusniati
5.      Titik ADYA




PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2009
OSTEOARTRITIS

A. Definisi
v Osteoartritis disebut juga penyakit sendi degeneratif atau hipertrofi. Penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut, (kopita selekta : 535)
v Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut.
B.  Etiologi
Entiologi penyakit ini tidak diketahui dengan pasti. Ada beberapa faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, yaitu :
1.  Usia lebih dari 40 tahun.
2.  Jenis kelamin, wanita lebih sering.
3.  Suku bangsa.
4.  Geretik.
5.  Kegemukan dan penyakit metaladik
6.  Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga.
7.  Kelainan pertumbuhan.
8.  Kepadatan tulang dan lain-lain.
C. Tanda dan Gejala
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan pada tenggorokan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembebasan sendi, dan perubahan gaya berjalan.
D. Patofisiologi
Akibat peningkatan aktivitas enzim-enzim yang merusak makromdekul matriks tulang rawan sendi (proteoglikan dan kolagen) terjadi kerusakan fokal tulang rawan sendi secara progresif dan pembentukan tulang baru pada dasar lesi tulang rawan sendi serta tepi sendi (osteofit). Osteofit terbentuk sebagai suatu proses perbaikan untuk membentuk kemtab persendihan, sehingga dipandang sebagai kegagalan sendi yang progresif.

Woc

E.  Penatalaksanaan
1.  Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat simtomotik. Obat antinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai analgesic dan mengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses potologis.
a.    Analgesik yang dapat dipakai adalah asitaminafen dosis 2,6-4g/ hari. Asam solusilat juga cukup efektif namun perhatikan efek samping pada saluran dan ginjal.
b.   Jika tidak berpengaruh atau jika terdapat tanda peradangan maka OAINS seperti fenoprofin, piroksikam, ibuprofen dapat digunakan. Dosis untuk osteoarthritis biasanya ½-1/3 dosis penuh untuk arthritis karena pemakaian biasanya untuk jangka panjang efek samping utama adalah gangguan mukosa lambung dan gangguan foal ginjal.
2.  Perlindungan sendi dengan kareksi postur tubuh yang buruk, penyangga untuk kondisi lumbal, menghindari aktifitas yang berlebihan pada sendi yang sakit dan pembakaran alat-alat untuk meringankan kerja sendi.
3.  Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan.
4.  Dukungan psikososial
5.  Persoalan seksual
6.  Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan yang tepat
7.  Operasi dipertimbangkan pada pasien dengan kerusakan sendi yang nyata, dengan nyeri yang menetap dan kelemahan fungsi.
F.  Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium darah tepi, imunologi dan cairan sendi umumnya tidak ada kelainan, kecuali osteoarthritis yang disertai peradangan. Pada pemeriksaan radiology didapatkan penyempitan rongga sendi disertai sclerosis tepi persendian. Mungkin terjadi deformitas, osteofitosis, atau pembentukan kista juksta artikular.

ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
  1. Identitas
Umur   :  Osteoartritis sering muncul pada usia lanjut, dan hampir tak pernah pada anak-anak osteoarthritis jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.
Jenis kelamin   :  Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi dan laki-laki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher.
  1. Keluhan Utama
Pasien biasanya mengeluh nyeri pada sendi waktu bergerak.
  1. Riwayat Kesehatan
1)      Riwayat kesehatan sekarang
Pasien biasanya mengeluh nyeri pada saat bergerak, keletihan, merasa kaku waktu pagi hari.
2)      Riwayat kesehatan dulu
Tidak terdiagnosa
3)      Riwayat penyakit sekarang
Keluarga pasien ada yang menderita penyakit ini, osteoarthritis muncul karena adanya faktor genetik.
  1. Pola aktifitas sehari-hari
1)      Pola aktifitas
·         Malaise
·         Keletihan
·         Keterbatasan rentang gerak
2)      Interaksi sosial
Kerusakan interaksi dalam keluarga
3)      Pola istirahat tidur
Kesulitan untuk tidur karena adanya nyeri.
4)      Neuro sensori
·         Sering kesemutan pada tangan dan kaki.
·         Hilangnya sensasi pada jari kaki dan tangan.
2.      Pemeriksaan Fisik
A.    Kesadaran
Composmentis
B.     Keadaan Umum
Malaise, keletihan
C.     TTV
TD          : Hipotensi
RR          : Normal
Suhu       : Normal
Nadi       : Takikardi

3.      Diagnosa Keperawatan
1)      Nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang.
2)      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan perubahan otot.
3)      Resiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang.
4)      Perubahan pola tidur berhubungan dengan nyeri.

4.      Intervensi
1)      Nyeri b/d penurunan fungsi tulang
Ø  Kriteria hasil
Nyeri hilang atau tekontrol
Ø  Mandiri
·         Kaji keluhan nyeri, catat tokasi dan intensitas (skala 0 - 10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
R/  Membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
·         Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan
R/  Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan me pemeliharaan kesejajaran tubuh tepat, menempatkan setres pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi / nyeri.
·         Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
R/  Pada penyakit berat, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera sendi.
·         Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak.
R/  Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit pada sendi.
·         Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.
R/  Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan metepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitifitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan.
·         Pantau suhu air kompres, air mandi
R/  Meningkatkan etaksasi/mengurangi tegangan otot.
·         Berikan masase yang lembut kolaborasi
R/  Meningkatkan reLaksasi, mengurangi.                                                     
Ø  Kolaborasi
·         Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk seperti asetil salisilat.
R/  Tegangan otot, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi.
2)      Intoleransi aktifitas b/d perubahan otot.
Ø  Kriteria Hasil
Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
Ø  Mandiri
·         Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
R/  Untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan.
·         Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin.
R/  Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.

·         Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan.
R/  Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
·         Berikan lingkungan yang aman dan menganjurkan untuk menggunakan alat bantu.
R/  Menghindari cedera akibat kecelakaan seperti jatuh.
·         Berikan obat-obatan sesuai indikasi seperti steroid.
R/  Untuk menekan inflamasi sistemik akut.
3)      Resiko cedera b/d penurunan fungsi tulang.
Ø  Kriteria Hasil
Klien dapat mempertahankan keselamatan fisik.
Ø  Mandiri
·         Kendalikan lingkungan dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak jelas, mengurangi potensial cedera akibat jatuh ketika tidur misalnya menggunakan penyanggah tempat tidur, usahakan posisi tempat tidur rendah, gunakan pencahayaan malam siapkan lampu panggil.
R/  Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi resiko cedera dan membebaskan keluarga dari kekhawatiran yang konstan.
·         Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum dengan memberikan kebebasan dalam lingkungan yang aman, hindari penggunaan restrain, ketika pasien metamun alihkan perhatiannya ketimbang mengagetkannya.       
R/  Hal ini akan memberikan pasien merasa otonomi, restrain dapat   meningkatkan agitasi, mengegetkan pasien akan meningkatkan ansietas.
4)      Perubahan pola tidur b/d nyeri.
Ø  Kriteria Hasil
Klien dapat memenuhi kebutuhan. istirahat atau tidur.
Ø  Mandiri
·         Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan biasanya dan perubahan yang terjadi.
R/  Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
·         Berikan tempat tidur yang nyaman
R/  Meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis/ psikologis
·         Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam pola lama dan lingkungan baru
R/  Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang berhubungan dapat berkurang
·         Instruksikan tindakan relaksasi
R/  Membantu menginduksi tidur
·         Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat dan massage.
R/  Meningkatkan efek relaksasi
·         Gunakan pagar tempat tidur sesuai indikasi: rendahkan tempat tidur bila mungkin.
R/  Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran dan tinggi tempat tidur, pagar tempat untuk membantu mengubah posisi
·         Hindari mengganggui bila mungkin, misalnya membangunkan untuk obat atau terapi
R/  Tidur tanpa gangguan lebih menimbulkan rasa segar dan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun.
Ø  Kolaborasi
·         Berikan sedative, hipnotik sesuai indikasi
R/  Mungkin diberikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
Kalim, Handono, 1996., Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.
Prince, Sylvia Anderson, 2000., Patofisiologi: Konsep Minis Proses-Proses Penyakit 1 Ed. 4, EGC, Jakarta.
R. Boedhi Darmojo & Martono Hadi (1999), Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut, Jakarta, Balai Penerbit FK Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar