Total Tayangan Halaman

Sabtu, 28 Juli 2012

MOBILISASI DINI Pada Penyakit Guillain-Barre Syndrome


TUGAS NEUROBEHAVIOR
(MOBILISASI DINI Pada Penyakit  Guillain-Barre Syndrome)
Di susun Oleh:
1.    Elis setyawati
2.    Rio maulana

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
“INSAN CENDEKIA MEDIKA “
JOMBANG
2010-2011
Jl. K.H. Hasyim Asy’ari 171, Mojosongo – Jombang

MOBILISASI DINI
Pada Penyakit  Guillain-Barre Syndrome
Meskipun sebagian besar penderita GBS dapat sembuh spontan, namun lama perjalanan penyakit GBS tidak dapat diprediksi dan sering membutuhkan perawatan rumah sakit dan rehabilitasi selama berbulan-bulan. Seiring dengan kembalinya suplai saraf, penderita membutuhkan bantuan untuk mampu menggunakan otot-otot yang terpengaruh oleh GBS secara optimal.
Setelah fase akut terlewati, pasien membutuhkan rehabilitasi untuk mencapai fungsi tubuh yang telah hilang. Rehabilitasi ditujukan terutama untuk memperbaiki fungsi aktivitas sehari-hari (AKS), seperti menggosok gigi, mencuci dan berpakaian.
Tujuan terapi fisik adalah untuk menstimulasi otot dan sendi, melalui berbagai gerakan fisik dan latihan; sehingga terbentuk kekuatan, fleksibilitas, dan lingkup gerak sendi yang optimal. Seorang fisioterapi akan melakukan program latihan progresif dan memberikan petunjuk mengenai gerakan fungsional yang benar, sehingga tidak terjadi kompensasi gerakan yang salah saat penyembuhan.
Penatalaksanaan rehabilitasi penderita GBS harus dimulai sejak awal penyakit, yaitu sejak kondisi pasien stabil. Oleh karena perjalananan penyakit GBS yang unik, ada dua fase yang perlu diperhatikan dalam memberikan fisioterapi, yakni pada fase progresif serta fase penyembuhan. Pada fase progresif, yang penting diperhatikan adalah bagaimana mempertahankan kondisi pasien, sehingga tidak terjadi komplikasi. Penting diperhatikan semua aspek medis dan rehabilitasi pada fase ini, karena pada fase ini, umumnya kondisi pasien akan terus menurun.
Prinsip rehabilitasi ditujukan terutama pada peningkatan kekuatan dan optimalisasi kondisi pasien. Prinsip rehabilitasi pada fase ini terutama ditujukan pada masalah muskuloskeletal dan kardiopulmoner. Tujuan utama dari rehabilitasi pada penderita GBS secara keseluruhan adalah untuk mengoptimalisasi kemampuan fungsional penderita.
Seperti telah disebutkan di atas, masalah muskuloskeletal adalah penting baik pada fase pertama maupun kedua oleh karena bukan hanya motorik adalah masalah utama penderita GBS, tetapi juga skeletal sebagai akibat dari gangguan motorik.
Mempertahankan kekuatan otot, panjang otot, luas gerak sendi (LGS), tanpa melupakan bahwa kondisi pasien masih akan terus memburuk dalam waktu maksimal 2 minggu. Untuk meningkatkan kekuatan otot, dapat dilakukan latihan penguatan secara aktif, bila kondisi pasien memungkinkan. Namun apabila penderita tidak mampu menggerakkan sendiri anggota badannya, sebaiknya dilakukan latihan penguatan dengan bantuan (aktif asistif). Pada penderita GBS yang sangat lemah, perlu diberikan latihan pasif, dimana terapis yang akan menggerakkan angota badan penderita.Karena umumnya kondisi penderita akan terus menurun, maka biasanya bantuan yang diberikan akan semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Latihan menggerakkan anggota tubuh dianjurkan dimulai dari bagian bawah, dan diakhiri dengan bagian tubuh yang terkuat. Hal ini sekaligus juga dapat meningkatkan motivasi pasien secara psikis. Latihan pergerakan setiap sendi dilakukan secara sistematis, sehingga tidak ada gerakan otot maupun sendi yang tertinggal.
Dalam menggerakkan anggota badan, perlu diperhatikan tingkat toleransi pasien terhadap latihan. Pasien tidak boleh dibiarkan terlalu lelah atau melakukan gerak paksa dalam menggerakkan anggota tubuh, karena hal ini dapat merusak motor unit. Berikan pengertian dan kesadaran kepada pasien bahwa gerakan yang dilakukan secara rutin lebih penting dalam mengembalikan gerakan otot, bila dibandingkan dengan gerakan yang terlalu dipaksakan. Bagi pasien GBS, frekuensi latihan seharusnya tidak terlalu tinggi dalam satu sesi, untuk mencegah kelelahan, mengingat jumlah motor unit yang bekerja hanya terbatas. Intensitas latihan dalam sehari dapat ditingkatkan secara bertahap.
Penderita GBS biasanya tidak mampu menggerakkan LGS secara penuh; sehingga fisioterapis perlu membantu penderita dalam menggerakkan sendi sesuai dengan luas gerak sendi yang normal, atau paling sedikit sampai lingkup sendi yang fungsional.
Seperti halnya latihan untuk otot, latihan pergerakan sendi sebaiknya juga dilakukan secara sistematis supaya tidak ada yang tertinggal. Sesudah gerakan aktif setiap sendi oleh penderita, sebaiknya ditambahkan 2 sampai 3 kali gerakan sendi oleh fisioterapis dalam LGS maksimal untuk mempertahankan LGS.
Pemeliharaan panjang otot dan lingkup gerak sendi, sehingga diharapkan panjang otot dan LGS akan tetap terjaga. Rehabilitasi pada fase lanjutan ini lebih menekankan pada upaya peningkatan kekuatan otot, dengan tetap memperhitungkan jumlah motor unit yang ada serta dalam masa pemulihan. Dalam menangani masalah kekuatan otot, fase ini masih berfokus pada peningkatan kekuatan otot. Meskipun demikian, beban latihan yang diberikan belum boleh terlalu berat, karena jumlah motor unit yang aktif masih terbatas. Program latihan aktif dapat ditingkatkan apabila penderita sudah mampu melakukan latihan aktif dan memenuhi LGS normal tanpa kesulitan. Jenis latihan penguatan yang diberikan kemudian dapat ditingkatkan menjadi bentuk latihan aktif resistif, dimana dalam upaya peningkatan kekuatan otot, diberikan beban. Beban yang diberikan dapat bervariasi, baik secara manual ataupun dengan alat. Beban manual diberikan oleh fisioterapis, sedangkan alat yang digunakan dapat macam-macam, misalnya dengan quadricep bench. Karena tujuan akhir rehabilitasi adalah untuk memaksimalkan kemampuan fungsional, perlu diperhatikan pada otot mana saja akan diberikan latihan tersebut; yakni terutama pada otot-otot yang diperlukan dalam beraktivitas.
Latihan pergerakan sendi pada fase penyembuhan tidak berbeda dengan latihan gerak sendi pada fase progresif; yakni berupa latihan gerak pada setiap sendi secara sistematis, dan di akhir gerakan aktif, ditambahkan 2 sampai 3 kali gerakan sendi maksimal untuk mempertahankan LGS.
Pemeliharaan panjang otot dapat dilakukan sekaligus pada saat melakukan latihan untuk mempertahankan LGS; terkecuali untuk beberapa otot yang melewati dua sendi, misalnya otot quadriceps, iliotibial band, dan sartorius. Otot-otot ini penting dalam kegiatan penderita sehari-hari, misalnya duduk, bersila atau bersimpuh; sehingga bila panjang ototnya tidak terpelihara, maka akan berpengaruh pada aktivitas penderita bila sembuh nanti. Pada otot-otot ini, perlu gerakan khusus untuk mempertahankan panjangnya.
Salah satu cara untuk mengetahui panjang otot adalah menanyakan aktivitas penderita, apakah penderita biasa bersila, duduk sambil menumpangkan kaki atau bersimpuh; atau dengan jalan membandingkan otot sebelah kanan dengan sebelah kiri, atau sebaliknya; sehingga dapat dinilai apakah panjang otot yang bersangkutan cukup baik untuk penderita dapat melakukan aktivitasnya kembali.
Untuk meningkatkan kemampuan ekspansi dada, perlu dilakukan latihan peningkatan ekspansi dada. Namun pada fase ini, latihan secara pasif sulit dilakukan, yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan bantuan ventilator atau hiperinflasi manual. Dengan terpenuhinya volume sesuai dengan kapasitas vital, maka pertukaran gas dalam alveoli akan bertambah sehingga mampu memenuhi kebutuhan ventilasi. Selain itu perlu dilakukan pemeliharaan kelenturan jaringan-jaringan lunak disekitarnya, sehingga LGS persendian disekitar tulang rusuk dapat terpelihara dengan baik. Bila kekuatan otot interkostal sudah kembali pulih, rongga dada akan siap untuk mengembang kembali; sehingga latihan penguatan dapat segera diberikan. Karena tekanan positif yang diberikan lewat ventilator dan hiperinflasi manual dapat memberikan efek samping, seperti barotrauma; maka latihan aktif harus segera dilakukan. Pemberian resep latihan masih harus memperhatikan intensitas dan frekuensi latihan dalam satu sesi dan dalam sehari. Hal ini akan memberikan kesempatan istirahat yang cukup bagi penderita, untuk menghindari kelelahan.
Penderita GBS dengan kelemahan otot pernafasan umumnya sulit untuk menghasilkan batuk yang cukup kuat untuk mengeluarkan sekresi. Bila sekresi dibiarkan menumpuk, diameter saluran pernafasan akan menyempit, dan volume udara yang masuk ke paru akan berkurang; sehingga dengan sendirinya kemampuan ventilasi juga akan berkurang.
Gangguan saraf otonomik, misalnya ketidakstabilan tekanan darah, diaphoresis, ataupun hipotensi postural akan muncul bila kerusakan selubung myelin mencapai tingkat vertebrae torakal atau lebih tinggi lagi, yakni saraf kranialis. Gangguan otonom ini merupakan salah satu hal yang perlu dicermati dalam rehabilitasi, terutama dalam hal mobilisasi; dimana saat mobilisasi, tubuh perlu melakukan adaptasi, baik karena pengaruh postural ataupun terhadap sistem kardiovaskuler. Karenanya, perlu dicermati perubahan tekanan darah saat dilakukan tindakan rehabilitasi.
Saat pasien GBS mulai sembuh, penggunaan otot-otot mulai kembali, sehingga perlu latihan otot-otot tersebut. Pasien akan terkejut betapa sedikit hal yang dapat ia kerjakan setelah berbaring beberapa minggu di tempat tidur saja. Fisioterapis dan terapis okupasi akan mengajarkan latihan untuk memperkuat otot-otot, serta menggunakan otot-otot tersebut secara benar dan meningkatkan stamina. Hari dimana seorang pasien dengan paralisis mampu duduk kembali merupakan suatu hari besar yang sangat berarti, sementara hari-hari besar lainnya adalah hari dimana penderita dapat duduk tanpa bantuan, duduk di kursi roda, dan berjalan dengan atau tanpa alat bantu, seiring dengan terlatihnya otot mereka. Interval antara fase-fase ini dapat sangat panjang dan melelahkan, berkisar dari satu setengah bulan hingga satu setengah tahun, tergantung dari kondisi pasien. Rehabilitasi juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis penderita, serta adanya periode ‘mati’ dimana tidak dijumpai adanya perbaikan apapun. Untuk meningkatkan motivasi pasien, fisioterapis perlu mengukur peningkatan stamina otot yang lambat, karena sesungguhnya rehabilitasi membutuhkan waktu yang panjang dan kesabaran baik dari pasein ataupun personil kesehatan.
Endurans hanya dapat dibangun dengan ketekunan; hal ini merupakan sesuatu yang sulit mengingat fakta bahwa penderita GBS memerlukan periode penyembuhan yang panjang antara tahapan-tahapan latihan. Pada pasien yang sulit menjumpai adanya perbaikan, mungkin perlu dibuat tujuan-tujuan jangka pendek bagi mereka sendiri; misalnya dimulai dari berjalan, kemudian jogging, lalu mengendarai sepeda, dsb. Mulailah dari tahap yang mudah; saat tubuh mulai belajar dan mengetahui kemampuannya sendiri, tujuan yang ingin dicapai dapat lebih ditingkatkan secara gradual. Jangan lupa perlu adanya waktu istirahat diantara tahapan latihan, atau mungkin interval 1 atau 2 hari diantaranya.   
Pasien diajarkan untuk menggunakan energinya yang terbatas secara bijak, antara lain dengan menggerakan badannya secara tepat, menghindari rutinitas yang tidak perlu, dan mengkompensasikan aktivitas yang sulit dengan gerakan ataupun aktivitas lainnya.
Kekuatan otot umumnya kembali pertama-tama pada lengan, kemudian tangan, sehingga terapi fisik dimulai dengan latihan pada lengan dan bahu. Hal-hal mendasar seperti halnya memegang pensil dan menggunakannya harus kembali dipelajari. Kekuatan otot perlu diperiksa secara rutin; otot yang lemah perlu dicari untuk kemudian dilatih dan diperkuat melalui latihan-latihan penguatan spesifik. Dengan bertambahnya kekuatan otot, rasa lelah akan semakin berkurang.
Kelelahan atau berkurangnya endurans otot merupakan masalah baik selama proses rehabilitasi dan masa penyembuhan. Hampir 80% penderita yang nampaknya sembuh dan hidup normal kembali, kadang masih dijumpai kelelahan ataupun fatigue; dan pada beberapa kasus, hal ini tidak kunjung berkurang. Seperti halnya rasa kesemutan dan nyeri, nampaknya penderita harus belajar untuk hidup dengan hal itu sebagai bagian hidupnya.


Sumber :


Komentar  : Kami setuju dengan pernyataan diatas karena sindrom guillain barre untuk meningkatkan kekuatan otot, dapat dilakukan latihan penguatan secara aktif, bila kondisi pasien memungkinkan. Namun apabila penderita tidak mampu menggerakkan sendiri anggota badannya, sebaiknya dilakukan latihan penguatan dengan bantuan (aktif asistif). Pada penderita GBS yang sangat lemah, perlu diberikan latihan pasif, dimana terapis yang akan menggerakkan angota badan penderita.Karena umumnya kondisi penderita akan terus menurun, maka biasanya bantuan yang diberikan akan semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Kekuatan otot umumnya kembali pertama-tama pada lengan, kemudian tangan, sehingga terapi fisik dimulai dengan latihan pada lengan dan bahu. otot yang lemah perlu dicari untuk kemudian dilatih dan diperkuat melalui latihan-latihan penguatan spesifik. Dengan bertambahnya kekuatan otot, rasa lelah akan semakin berkurang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar