Total Tayangan Laman

Jumat, 27 Juli 2012

askep trauma medula spinalis




ASUHAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN TRAUMA MEDULA SPINALIS

( Tugas Mata Kuliah IKD 3)





Disusun Oleh :

FIRJINIA TITIN MUNAWAROH






PRODI D3 KEPERAWATAN
SEMESTER II




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2010


TRAUMA MEDULA SPINALIS




I. DEFINISI
A.   Medula spinalis terdiri atas 31 segmen jaringan saraf dan masing-masing memilik sepasang saraf spinal yang keluar dari kanalis vertebralismelalui foramen inverterbra.Terdapat 8 pasang saraf servikalis,12 pasang torakalis,5 pasang lumbalis,5 pasang sakralis,dan 1 pasang saraf  kogsigis.

Cedera Medula Spinalis / cedera tulang belakang adalah cedera mengenai servikalis,vertebralis dan lumbalis akibat trauma : jatuh dari ketinggian,kecelakakan lalu lintas,kecelakakan olah raga,dsb ( Http / Tulus-Andi.Blogspot.com ).

Trauma pada tulang belakang adalah cedera yang mengenai servikalis vertebralis dan lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang ( Arif Muttagin,2008 : 298 ).

Trauma Medula Spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan secara mendadak sampai yang menyebebkan transeksi lengkap dari medula spinalis dengan quadriplegia ( Fransisca B.Batticaca,2008 : 30 ).

1.Cedera tulang stabil
Cedera yang komponen vertebralnya tidak akan tergeser oleh gerakan normal sehingga sumsum tulang tidak rusak dan biasanya resikonya lebih rendah.
2.Cedera tulang tidak stabil
Cedera yang dapat mengalami pergeseran lebih jauh dimana terjadi perubahan struktur dari oseoligamentosa posterior,komponen pertengahan,dan kolumna anterior.

II.ETIOLOGI
1.Kecelakaan lalu lintas / jalan raya ( Penyebab paling sering ).
2.Kecelakaan dalam olah raga.
3.Luka tembak / tusuk.
4.Jatuh dari pohon / bangunan / tangga.
5.Kejatuhan benda keras.
6.Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medula spinalis seperti spondi liosis servikal dengan mielepati,yang menghasilkan saluran sempit dan mengakibatkan cedera progresif terhadap medula spinalis,mielitis akibat proses inflamasi infeksi maupun non infeksi,osteoporosis yang disebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebra,tumor infiltrasi maupun kompresi.







III.TANDA & GEJALA

*Cedera tulang belakang harus selalu diduga pada kasus dimana setelah cedera        klien mengeluh nyeri serta terbatasnya pergerakan leher dan punggung .
*Kelumpuhan otot ( terjadi kelemahan  selama syok spinal ) pada bawah lesi.
*Kelemahan umum / kelemahan otot ( trauma dan adanya kompresi saraf ).
*Nyeri / nyeri tekan otot.
*Mengalami deformitas.
*Pada pernapasan timbul gejala napas pendek,kekurangan O2,sulit bernapas,dan timbul tanda pucat,sianosis.
*Perubahan tanda vital.
*Dapat mengalami



IV.PATOFISIOLOGI
Akibat suatu trauma mengenai vertebrata mengakibatkan patah tulang belakang.paling banyak survikalis lumbalis.fraktur dapat berupa  patah tulang sederhana kompresi dislokasia,sedangkan pada sumsum tulang belakang dapat berupa memar / kontusio laelrasi dg / tanpa perdarahan.blok syaraf simpatis pelepasan mediator  kimia iskemia,dan inpok semia syok spinal gangguan fungsi kandung kemih.
Lokasi cedera medula spinalis umumnya mengenai C1 dan C2,C4,C6, dan T11 atau L2.Mekanisme terjadinya cidera sebagai berikut.
-Fleksi-rotasi ,dislokasi,dislokasi fraktur,umumnya mengenai torakulumbal,terjadi pada T12-L1.Fraktur lumbal a/ fraktur yang terjadi pada dhaerah vertebra bawah.bentuk cedera ini mengenai ligamen,kerusakan pembuluh darah,fraktur vertebra,dan mengakibatkan iskemia pada medula spinalis.
-Hiperekstensi, umumnya mengenai klien dengan usia dewasa yg memiliki perubahan degeneratif vertebra,usia muda yangmendapat kecelakaan lalu lintas dan usia muda yang mengalami cedera  seperti menyelam.
-Kompresi, cedera kompresi sering disebabkan karena jatuh atau melompat dari ketinggian,dengan posisi kaki atau bokong ( duduk).tekanan mengakibatkan fraktur vertebra dan menekan medula spinalis.













V.Penatalaksanaan

1.Lakukan tindakan segera pada cedera medula spinalis.
Tujuannya a/ mencegah kerusakan lebih lanjut pada medula spinalis.sebagian cedera medula spinalis diperburuk oleh penanganan yang kurang tepat,efek hipotensi atau hipoksia pada jaringan saraf yang sudah terganggu.
-Letakkan pasien pada alas yang keras dan datar untuk pemindahan.
-Beri bantal,guling atau bantal pasir pada sisi pasien u/ mencegah pergeseran.
-tutup dengan selimut untuk menghindari hawa panas badan.
-pindahkan pasien ke RS yang memiliki fasilitas penanganan kasus cedera medula spinalis.

2.Perawatan khusus
-Kontusio / transeksi / kompresi medula spinalis.
a).metil prednisolon 30 mg / kg BB bolus intra vena selama 15 menit dilanjutkan dg 5,4mg /kg BB/ jam, 45 menit.setelah bolus ,selama 23 jam hasil optimal bila pemberian dilakukan < 8 jam onset.
b).Tambahkan profilaksis stres ulkus : antasid / antagonis H2

3.Tindakan operasi diindikasikan pada :
-Fraktur servikal dg lesi parsial medula spinalis
-Cedera terbuka dg benda asing / tulang dlm kanalis spinalis.
-Lesi parsial medula spinalis dg hematomielia yang progresif.




































































KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I.Pengkajian

A.Identitas
Trauma medula spinalis dapat terjadi pada semua usia dan jenis kelamin.

B.Keluhan utama
Keluhan utama yang menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan adalah nyeri,kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas,inkontinensia defekasi dan urine,deformitas pada daerah trauma.

C.Riwayat penyakit sekarang
Adanya riwayat trauma yang mengenai tulang belakang akibat dari kecelakaan lalu lintas,olah raga,jatuh dari pohon atau bangunan,luka tusuk,luka tembak dan kejatuhan benda keras.
Perlu ditanyakan pada klien atau keluarga yang mengantar klien atau bila klien tidak sadar tentang penggunaan obat-obatan adiktif dan penggunaan alkohol yang sering terjadi pada beberapa klien yang suka kebut-kebutan.

D.Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit degeneratif pada tulang belakang,seperti osteoporosis,osteoartritis,spondilitis,spondilolistesis,spinal stenosis yang memungkinkan terjadinya kelainan pada tulang belakang.

E.Riwayat penyakit keluarga
Kaji apakah dalam keluarga px ada yang menderita hipertensi,DM,penyakit jantung untuk menambah komprehensifnya pengkajian.

F.Riwayat psiko-sosio
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga.
Apakah ada dampak yang timbul pada klien,yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan,rasa cemas,rasa ketidak mampuan untuk melakukan aktifitas secara optimal dan pandangan terhadap dirinya yang salah.

G.Pola aktivitas
-Aktifitas dan istirahat
* Kelumpuhan otot ( terjadi kelemahan selama syok spinal ) pada bawah lesi.
* Kelemahan umum / kelemahan otot ( Trauma dan adanya kompresi saraf ).
-Makanan / cairan
* Mengalami distensi yang berhubungan dengan omentum.
* Peristaltik usus hilang ( ileus paralitik ).
-Eliminasi
* Inkonti nensia defekasi berkemih.
*Retensi urine
-Hygien
* Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.


H.Pemeriksaan fisik
* Keadaan umum,TTV,status kesadaran pada klien dengan cidera spinal stabil tidak mengalami perubahan,tetapi pada klien yang diindikasikan cedera spinal tidak stabil dapat mengalami perubahan.
* Inspeksi adanya deforamitas pada leher / punggung.
* Kaji adanya memar ( Pada fase awal cedera ) baik pada leher,muka dan bagian belakang telinga,tanda memar pada wajah,mata / dagu merupakan salah satu tanda adanya cedera hiper ekstensi pada leher.
* Pemeriksaan reflek
-Reflek patela biasanya melemah karena kelemahan pada otot hamstring.
-Reflek bulbokavernosus didapatkan positif menandakan adanya syok spinal.
-Pemeriksaan s.perkemihan dan pencernaan terdapat incontinensia defekasi dan mikturisi.
* Pemeriksaan lokalis :
a).look ~ adanya perubahan warna kulit,abrasi dan memar pada punggung.
b).feel ~ prosesus spinosus di palpasi untuk mengkaji adanya suatu celah yang dapat diraba akibat sobeknya ligamentum posterior menandakan cedera yang tidak stabil sering didapatkan adanya nyeri tekan pada area lesi.
c).move ~ gerakan tulang punggung,spinal tidak boleh dikaji.disfungsi motorik paling umum adalah kelemahan & kelumpuhan pada seluruh ekstemitas bawah.
                                                                                                                           
I.Pemeriksaan diagnostik
1.Foto Rontgen posisi AP,lateral dan oblig dilakukan u / menilai :
* Diameter anteroposterior kanal spinal.
* Kontur,bentuk dan kesejajaran vertebra.
* Pergerakan frogmen tulang dalam kanal spinal.
* Keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus.
* Ketinggian ruangan diskus inter vertebralis.
2.CT scan dan MR 1 untuk menunjukkan tingkat penyumbatan kanalis spinalis.













II.Dx Keperawatan
1.Resti injuri / cedera korda spinalis b/d kompresi korda sekunder dari cedera spinal servikal tdk stabil,manipulasi berlebihan pada leher.
2.Aktual / resiko tinggi pola napas tdk efektif b/d kelemahan otot-otot pernapasan,kelumpuhan otot diafragma.
3.Nyeri b/d kompresi akar saraf,spasme otot / tekanan di dhaerah distribusi ujung saraf.
4.Hambatan mobilitas fisik b/d paraplegia sekunder dari kompresi spinal.
5.Gangguan pemenuhan eliminasi urine b/d gangguan fungsi miksi sekunder dan kompresi medula spenalis.
6.Aktual / Resti            otot dan kontraktur sendi b/d paraplegia,kelemahan motorik.
7.Kecemasan b/d prognosis kondisi sakit,rencana pembedahan.


III.Intervensi
1.Diagnosa : Resti injuri / cedera korda spinalis b/d kompres korda sekunder dari cedera spinal servikal tidak stsbil.
Tujuan    :  Dalam waktu 2 X 24 jam resiko injury tidak terjadi.
Kriteria Hasil : TTV dalam batas normal,klien sadar GCS ( 4,5,6 ) tidak ada tanda-tanda syok spinal.
Intervensi : 1.Monitor TTV
R/ Penurunan denyut jantung & tekanan darah tanda awal dampak dari kompresi korda.
2.Monitor tiap jam akan adanya syok spinal pada fase awal cedera selama 48 jam.
R/ Cedera pada vertebra servikal dapat mengakibatkan terjadinya syok spinal.
3.Lakukan Teknik Pengangkatan cara log rolling atau  long back boord pada setiap transportasi klien.
R/ Teknik ini mempunyai prinsip memindahkan kolumna vertebralis sebagai satu unit dengan kepala & pelvis dengan tetap menjaga kesejajaran tulang belakang untuk menghindari kompresi korda.
4.Imobilisasi leher terutama pada klien yang mengalami cedera spinal tidak stabil.
R/ Pemasangan fiksasi kolar servikal dapat menjaga kestabilan dalam melakukan mobilitas leher.
5.Beri penjelasan tentang kondisi klien.
R/ Usaha untuk meningkatkan kooperatif klien terhadap intervensi yang diberikan.
6.Kolaborasi dengan Tim medis.
-Pemeriksaan radiologi
R/ Pemeriksaan utama dalam menilai sejauh mana kerusakan yang terjadi pada cedera spinal servikal.

2.Diagnosa : Aktual / Resiko tinggi pola nafas tidak efektif b/d kelemahan otot-otot pernapasan,kelumpuhan otot diafragma.
Tujuan : Dalam waktu 2 X 24 jam tidak terjadi ketidak efektifan pola nafas
Kriteria Hasil : RR dalam batas normal ( 12-20x / menit) tidak ada tanda-tanda sianosis,analisa gas darah dalam batas normal,pemeriksaan kapasitas paru normal.
Intervensi : 1.Observasi fungsi pernapasan,catat frekuensi pernapasan,dispnea atau perubahan tanda-tanda vital
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiologi dapat menunjukkan terjadinya spinal syok.
2.Pertahankan perilaku tenang,bantu klien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia,yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan / ansietas.
3.Pertahankan jalan napas; posisi kepala tanpa gerak.
R/ Klien dengan cedera sevikalis akan membutuhkan bantuan u/ mencegah aspirasi / mempertahankan jalan napas.
4.Observasi warna kulit
R/ Menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan segera.
5.Lakukan pengukuran kapasitas vital,volume tidal, dan kekuatan pernapasan.
R/ Menentukan fungsi otot-otot pernapasan.
6.Berikan oksigen dengan cara yang tepat
R/ Metode dipilih sesuai dengan keadaan.insulisiensi pernapasan.

3.Diagnosa : Nyeri b/d kompresi akar saraf,spasme otot/tekanan di dhaerah distribusi ujung saraf.
Tujuan : Dalam waktu 1X24 jam nyeri berkurang / hilang atau teradaptasi.
Kriteria hasil : Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang / dapat diadaptasi,skala nyeri 0-1 ( 0-4 ) dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan nyeri,klien tidak gelisah.
Intervensi : 1.Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non-invasif.
R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangai nyeri.
2.Lakukan manejemen nyeri keperawatan :
* Ajarkan tehnik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul.
R/ Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spinal.
        *Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
R/ Distraksi ( pengalihan perhatian ) dalam menurunkan stimulus internal.
*Lakukan manajemen sentuhan
R/ Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri.
*Pasang korset lumbosakra
R/ Penahan lumbal yang lembut dapat memberi keringanan pada lumbal karena titik beratnya ditarik ke dekat tulang belakang.
3.Kolaborasi dengan dokter,pemberian analgesik
R/ Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang







































DAFTAR PUSTAKA



Batti caca, Fran sisca B .2008 . Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan system persyarafan.Jakarta : Salemba Medika



Http :/ Tulus-Andi . blog spot . com/2009. Asuhan Keperawatan Spinal cord injury . Diakses tanggal 2 september 2009.



Mansjoer, Arif.2000 . Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga.Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.



Muttaqim, Arif .2008 .Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan sistem saraf . Jakarta : Salemba Medika.















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar